Sabtu, 28 Januari 2012
Pertolongan Allah, Bukan Kebetulan
Artikel Lepas
23/1/2012 | 28 Shafar 1433 H | Hits: 1.627
Oleh: Wafiyyatunnisa Asy syu'lah
dakwatuna.com - Terinspirasi dari sebuah kisah, tentang kesaksian seseorang yang mengalami kejadian nyata yang menakjubkan, Yusuf bin Husain, yang dikisahkan oleh Ibnu Qudamah, dan saya baca pada cuplikan novel “BUMI CINTA” yang ditulis oleh ustadz Habiburrahman El Shirazy (kang Abik). Berikut kisahnya:
“Pernah suatu ketika aku bersama Dzun Nun Al Mishri berada di tepian sebuah anak sungai. Aku melihat seekor kalajengking besar di tempat itu. Tiba-tiba ada seekor katak muncul ke permukaan, dan kalajengking itu kemudian naik di atas punggungnya. Kemudian sang katak itu berenang menyeberangi sungai.
Dzun Nun Al Mishri berkata, ‘ada yang aneh dengan kalajengking itu, mari kita ikuti dia!’
Maka kami lantas menyeberang mengikuti kalajengking yang digendong katak itu. Kami terperanjat ketika menjumpai seseorang tertidur di tepian sungai yang nampaknya habis mabuk. Dan di sampingnya ada seekor ular yang mulai menjalar dari pusar hingga ke dadanya, kiranya ular tersebut hendak menggigit telinganya.
Kami lalu menyaksikan kejadian luar biasa. Kalajengking itu tiba-tiba melompat secepat kilat ke tubuh ular itu dan menyengat ular itu sejadi-jadinya, hingga sang ular menggeliat-geliat dan terkoyak-koyak tubuhnya
Dzun Nun lalu membangunkan anak muda yang habis mabuk itu. Sesaat kemudian anak muda itu terjaga. Dzun Nun berkata, ‘Hai anak muda, lihatlah betapa besar kasih sayang Allah yang telah menyelamatkanmu. Lihatlah kalajengking yang diutus-Nya untuk membinasakan ular yang hendak membunuhmu!’
Lalu Dzun nun melanjutkan nasihatnya, ‘Hai orang yang terlena, padahal Tuhan menjaga dari marabahaya yang merayap di kala gulita. Sungguh aneh, mata manusia mampu terlelap meninggalkan Tuhan Yang Kuasa, yang melimpahinya berbagai nikmat.’
Setelah itu pemabuk itu berkata, ‘Duhai Tuhanku, betapa agung kasih sayangMu sekalian terhadap diriku yang durhaka kepadaMu. Jika demikian, bagaimana dengan kasih sayangMu kepada orang yang selalu taat kepadaMu?’ “
*****
Sahabat, membaca kisah di atas, saya jadi teringat pada beberapa kejadian yang pernah saya alami sendiri:
“Pagi itu, sepulang shalat ied saya bersama seorang akhwat berjalan menyusuri jalan pinggiran Telkom-gasibu. Sepanjang perjalanan kami asyik berbincang. Hingga tiba-tiba, ‘PLAKK…!’ kami dikejutkan oleh suara yang cukup keras. Spontan kami menoleh ke belakang, tempat asal suara tersebut. Ternyata tak jauh di belakang kami, satu pelepah pohon yang cukup besar jatuh, tepat di jalan yang baru saja kami lewati, hanya beberapa detik sebelumnya. Tapi Allah telah menyelamatkan kami dengan, menahan jatuhnya pelepah itu beberapa detik saja”
“Pernah suatu malam, sebelum beristirahat saya menyempatkan diri untuk memanaskan air dengan menggunakan ceret pemanas. Karena terlalu lelah saya tertidur. Cukup lama saya tidur, hingga akhirnya saya terbangun saat mendengar suara ribut dari luar. Gelap, listrik mati. Dalam suasana gelap, masih dengan setengah kesadaran saya menangkap cahaya merah, begitu kontras, tampak sangat menyala. Seketika kesadaran saya menjadi utuh, kaget luar biasa. Saya ingat sedang memanaskan air, dan cahaya itu adalah dari saklar pemanas yang terbakar. Meski dengan tubuh yang gemetar, secepatnya saya menuju asal cahaya dan mencabut kabel dari kontak listrik. Bau hangus begitu menyengat.
Ternyata air yang saya panaskan telah habis, ceret itu kering. Padahal saya ingat bahwa sebelumnya air yang saya panaskan memenuhi ukuran ceret. Tak lama kemudian listrik kembali menyala, dan suasana kembali sepi. Ternyata tadi sekering listriknya jatuh, dan suara ribut itu adalah suara anak-anak penghuni kamar sebelah. Saat itu pukul tiga dini hari. Kejadian itu membuat saya benar-benar tidak dapat lagi memejamkan mata. Saya sangat bersyukur Allah masih menyelamatkan saya, melalui suara ribut yang membuat saya terbangun, juga melalui sekering listrik yang jatuh.”
“Dulu saya memelihara beberapa ekor kucing di rumah. Saya memang pecinta kucing (meski semenjak kuliah saya tak pernah lagi memelihara kucing, dan tak pernah berani menyentuh bulunya, khawatir akan virus dan takut alergi). Kucing saya beranak pinak, menjadi keluarga utuh. Ada induk, anak, cucu, hingga ke cicit.
Suatu hari sepulang sekolah, saya melihat kucing-kucing saya sedang menikmati ikan, tak tanggung-tanggung, satu kilo ikan. Sebelum saya sempat bertanya, mama dengan penuh semangat, antara rasa syukur dan rasa takjub bercerita,
‘Tadi pagi mama lagi nyuci piring di belakang (waktu itu tempat cuci piring masih berada di belakang, di luar rumah), Tiba-tiba si emak (panggilan kucing yang paling senior, emaknya kucing-kucing di rumah) nyamperin. Husshh…hush…, sana jangan ganggu. Kata mama. Tapi gak tau kenapa si emak tetap saja duduk di sana. Hush.., jangan di sini, tar kesenggol…, mama sich terus ngusir, tapi dianya tetap gak mau pergi. Akhirnya ya udah, mama lanjutin lagi nyuci piring. Ech… gak lama kemudian, kok ada suara ribut-ribut yah..? Mama noleh, dan ternyata, Masya Allah!! Si emak lagi berantem ama seekor ular, tepat di belakang kaki mama saat itu. Gak lama kemudian ularnya mati. Sebagai hadiah, si emak dan kucing-kucing yang lain mendapatkan satu kilogram ikan segar’.
Kami yang mendengar cerita itu ternganga, merasa sangat terkejut, bersyukur, juga ngeri. Tak bisa membayangkan kalo si emak tak berada di sana. Tapi sekali lagi, ini pasti bukan sebuah kebetulan. Allah yang telah memberikan ilham pada kucing itu untuk tetap betahan di sana meski telah diusir berkali-kali. Subhanallah.”
“Kejadian lain, yang mungkin kelihatannya lebih sepele (tapi tidak bagi saya), adalah saat saya kuliah di program ekstensi Unpas. Waktu itu ada tugas yang harus dikumpulkan. Bagi saya, kuliah sambil kerja memang tak mudah untuk membagi konsentrasi. Rata-rata tugas saya kerjakan dalam keadaan sistem kebut dan kilat, serba dadakan, di kantor pada saat ada sedikit waktu luang dari pekerjaan-pekerjaan saya. Saya ingat untuk mata kuliah ini saya pernah beberapa kali bolos karena tuntutan profesi. ‘Hari ini gak boleh bolos lagi, di samping tugas memang harus hari ini juga dikumpulkan’ begitu pikir saya. Perkuliahan dimulai pukul lima sore.
Hingga hampir pukul enam saya masih berada di kantor, menyelesaikan tugas yang belum rampung. Beberapa saat kemudian tugas selesai. Tapi tiba-tiba atasan saya menyampaikan suatu masalah yang harus segera diselesaikan. Jujur saat itu yang saya pikirkan adalah secepatnya berangkat dan tiba di kampus, meski memang sangat terlambat.
Tak ada pilihan bagi saya selain memenuhi permintaan atasan dan tetap bertahan di kantor, entah sampai jam berapa. Saya berfikir, ‘kuliah beres jam setengah tujuh, sempat gak ya?’ saat itu saya masih merasa harus kuliah, meski mungkin hadir satu menit sebelum pelajaran berakhir, sekadar untuk absen dan mengumpulkan tugas. Tapi masalah yang harus diselesaikan terlalu ruwet, apalagi dengan suasana hati dan pikiran yang serba tak nyaman, kehilangan konsentrasi. Cukup lama saya hanya terpaku, hingga kemudian terdengar suara adzan Maghrib.
Saya segera berwudhu, meninggalkan komputer dengan segala PR-nya. Selepas shalat saya berdoa, antara rasa bingung dan sangat berharap akan pertolongan Allah. Tak lama setelah saya kembali ke depan komputer (masih dengan setengah hati), satu sms saya terima, ‘ibunya gak ada teh, lagi sakit. Absennya juga tar aja katanya, minggu depan aja sambil ngumpulin tugas’. Subhanallah, Alhamdulillah, saya merasa sangat bersyukur (bukan karena ibunya sakit lho :D), melainkan karena pertolongan yang Allah turunkan, dalam suatu kejadian yang seolah sebuah kebetulan.”
Masih begitu banyak kisah yang pernah terjadi, entah yang masih saya ingat, maupun yang saya sendiri telah lupa atau memang tidak menyadari. Terlalu panjang jika harus dituliskan di sini, sehingga cukuplah beberapa kejadian di atas sebagai contoh. Saya yakin, kita semua pasti pernah mengalami kejadian itu, saat di mana kita tiba-tiba menyadari bahwa Allah telah menurunkan pertolongannya dengan perantara yang tak terduga.
Sering kita tanpa sadar mengatakan ‘untung ada si ini, kalau gak gimana yah tadi nasib saya’ atau ‘ya Allah, gak kebayang kalau tadi saya ada masih di sana…’ dan sebagainya. Seolah keselamatan kita adalah karena peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Padahal kalau kita lihat lagi kisah pertama di atas, bagaimana Allah mengutus seekor katak untuk muncul ke darat, SENGAJA untuk menjemput seekor kalajengking di seberang sungai, kemudian mengantar kalajengking itu hingga ke tempat seorang pemabuk yang tertidur pulas. Bagaimana kemudian Allah memerintahkan kalajengking itu untuk tak berdiam diri di sana, melainkan segera menyerang ular, tepat beberapa saat sebelum mencelakai pemuda tersebut. Allah juga yang telah mengatur, sang kalajengking tiba di sana tepat pada waktunya. Allahu Akbar…..!
Nah sahabat, coba ingat-ingat lagi kejadian yang pernah terjadi. Rasakan betapa luar biasa cara Allah memberikan pertolongan, lalu ucapkanlah rasa syukur yang paling dalam kepadaNya.
Allah SWT berfirman yang artinya:
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Baqarah (2): 255 – Ayat Kursi)
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).“ (QS. Al An’am (6): 59)
Wallahu’alam bishawab.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/18175/pertolongan-allah-bukan-kebetulan/#ixzz1kobSWFwq
Jumat, 30 Desember 2011
“Buat Apa Berkerudung Kalau Kelakuan Rusak” Benarkah?
dakwatuna.com – Perempuan yang baik adalah yang
bagus agamanya, yang dimaksud ‘agamanya’ adalah agama dalam hati bukan
dalam penampilan. Pertanyaan, “Berarti lebih bagus perempuan tidak
berkerudung tapi baik kelakuannya (beragama) daripada perempuan
berkerudung yang tidak beragama (tidak baik kelakuannya)? Jawab: “Yang
lebih bagus adalah perempuan yang berkerudung dan beragama sekaligus.”Kenapa?
Realitas memperlihatkan kepada kita bahwa perempuan berkerudung lebih banyak yang beragama ketimbang perempuan yang tidak memakai kerudung.
Jika ada perempuan tak memakai kerudung tapi beragama (berakhlaq), maka itu adalah pengecualian dari perempuan-perempuan tak berkerudung yang rata-rata kurang berakhlaq.
Begitu pula jika ada perempuan berkerudung tapi tidak/kurang beragama, maka itu adalah pengecualian dari perempuan-perempuan berkerudung yang rata-rata beragama.
Kerudung adalah setengah petunjuk kalau wanita yang memakai kerudung tersebut adalah wanita beragama, setengahnya lagi adalah hati atau perilaku kesehariannya.
Bila perilaku keseharian seorang wanita muslimah sudah bagus namun belum berkerudung, segera lengkapi dengan kerudung, agar setengahnya terlengkapi dan menjadi sempurna. Begitu pula jika seorang wanita muslimah sudah berkerudung, namun akhlaq atau perilaku kesehariannya masih tidak baik, segera lengkapi dengan akhlaq yang baik, agar setengahnya terlengkapi dan menjadi sempurna.
Jadi, jangan ada lagi orang yang berkata “Buat apa berkerudung kalau kelakuan seperti wanita tak beragama (tidak baik), lebih baik tidak berkerudung!!”
Pernyataan itu keliru karena beberapa alasan:
Pertama: Alasan Syar’i
Pernyataan tersebut sama dengan menyeru perempuan untuk melanggar apa yang telah Allah perintahkan kepada wanita muslimah. Di dalam Al-Quran Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل
لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ
مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ
وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
“Wahai Nabi,
katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri
orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh
mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,
karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzaab: 59)Kedua: Alasan Logis
Dikatakan sebelumnya bahwa wanita muslimah yang baik akhlaqnya namun tak berkerudung baru setengahnya menunjukkan kalau wanita tersebut beragama, karena setengahnya lagi adalah kerudung, berarti wanita yang tidak baik kelakuannya dan tidak berkerudung, tidak setengah pun menunjukkan bahwa wanita tersebut beragama. Maka, bukankah ini lebih parah nilainya di mata agama? Oleh karena itulah pernyataan di atas tidak menjadi solusi yang tepat.
Solusi yang Tepat
Bagi wanita muslimah yang sudah berkerudung dan merasa kalau akhlaq atau perilakunya masih jauh dari akhlaq seorang wanita muslimah yang sebenarnya, tidak perlu terhasut dengan pernyataan “Buat apa pakai kerudung, kalau…. dst” lantas melepas kerudungnya karena malu.
Solusi yang bijak adalah, biarkan kerudung itu tetap melekat bersamanya sembari berusaha untuk terus mengadakan perbaikan akhlaq atau perilakunya.
Pernyataan Lain
“Kerudungi hati dulu, baru kerudungi penampilan”. Jika pernyataan ini memang pernah terlontar dan pernah ada, alangkah bijak jika pernyataan ini kita ubah menjadi: “Mengerudungi hati tak kalah penting dari mengerudungi penampilan”.
Tentang pernyataan pertama, dikarenakan perbaikan akhlaq adalah proses berkesinambungan seumur hidup yang jelas bukan instan, dan dikarenakan tak ada yang dapat menjamin bagaimana dan seperti apa hari esok dalam kehidupan kita? Masih di atas bumi kah atau di dalam perutnya? Masih memijak kah atau dipijak? Maka menunda berkerudung dengan alasan memperbaiki akhlaq dulu adalah sesuatu yang tidak semestinya dilakukan oleh wanita muslimah mana pun.
Adapun pernyataan kedua, memang demikianlah adanya, bacalah Al-Quran dan tadabburi maknanya, maka kita temukan bahwa hampir setiap kali Allah berfirman tentang wanita muslimah yang baik (beragama), isinya adalah tentang “Bagaimana seharusnya wanita muslimah itu berperilaku?” selebihnya adalah tentang “Bagaimana seharusnya wanita muslimah itu berpenampilan?”. Jika berkenan bacalah QS. An-Nur ayat 31, At-Tahrim ayat 5, 10, 11 dan 12, dan seterusnya.
Pernyataan berikutnya adalah:
“Kerudung itu bukan inti dari Islam!” Ya, saya pribadi setuju, memang bukan inti dari Islam, tapi bagian penting dari Islam yang jika bagian itu tidak ada, maka terlalu sulit untuk dikatakan “Ini Islam” sama sulitnya untuk dikatakan “Ini bukan Islam”.
Dikatakan wanita muslimah sulit karena tidak pernah mau pakai kerudung, dikatakan bukan wanita muslimah juga sulit, karena shalat, zakat dan ibadah-ibadah lainnya tetap dikerjakan, juga akhlaqnya adalah akhlaq wanita muslimah.
Kalau saya ibaratkan, hal ini seperti bangunan rumah yang tak nampak seperti rumah, namun lebih tampak seperti gudang; berjendela tanpa kaca, tanpa lantai ubin, dan tanpa atap dan seterusnya.
Dikatakan rumah sulit, karena dari luar hampir tak dapat dibedakan dengan gudang. Dikatakan bukan rumah juga sulit, karena ternyata penghuninya lengkap, pasangan suami istri dan satu anak lelaki.
Jendela berkaca, pintu, atap, dan lantai ubin memang bukan bagian inti dari rumah, tapi tanpa adanya semua itu, sebuah bangunan akan kehilangan identitasnya sebagai rumah, konsekuensinya, orang-orang akan menyangka kalau bangunan tersebut adalah gudang tak berpenghuni.
Kerudung atau jilbab adalah identitas seorang muslimah (wanita beragama Islam). Kerudung lah yang memberi isyarat kepada lelaki-lelaki muslim bahkan semua lelaki bahwa yang mengenakannya adalah wanita terhormat, sehingga sangat tidak pantas direndahkan dalam pandangan mereka, kata-kata mereka, maupun perbuatan mereka (para lelaki).
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء
الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى
أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
“Wahai
Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan
istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke
seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk
dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzaab: 59)Kesimpulan
“Identitas seorang wanita muslimah itu adalah jilbab dan akhlaqnya, akhlaq tanpa jilbab kurang, sama kurangnya dengan jilbab tanpa akhlaq”.
Kamis, 29 Desember 2011
Wali – Doaku Untukmu Sayang
Wali – Doaku Untukmu Sayang
Kau mau aku apa, pasti kan ku beri
Kau minta apa, akan ku turuti
Walau harus aku terlelap dan letih
Ini demi kamu sayang
Reff :
Aku tak akan berhenti
Menemani dan menyayangimu
Hingga matahari tak terbit lagi
Bahkan bila aku mati
Ku kan berdoa pada Ilahi
Tuk satukan kami di surga nanti
Tahukah kamu apa yang ku pinta
Disetiap doa sepanjang hariku
Tuhan tolong aku, tolong jaga dia
Tuhan aku sayang dia
Back to Reff
(Tuhan tolong aku, juga jaga dia
Tuhan ku pun sayang dia)
Back to Reff
Koleksi Wali Band yang lain.
Mp3 Download & Lirik Lagu Wali – Doaku Untukmu Sayang
Rabu, 28 Desember 2011
ALQURAN untuk apa diturunkan ?
Sering kita jumpai alquran hanya sebagai hiasan rumah
dipampang diruang tertentu dalam ukuran yang menakjupkan
membuat setiap orang yang melihat bergumam, woow … bagus sekali, woow indah sekali…, woow pasti mahal ya…, kita jumpai alquran hanya sebagai hiasan rumah. dosakan ini ? waullah hu alam. hanya Allah yang tahu. tergantung bagaimana niat kita saat memajang ayat ayat suci Alquran tersebut. akan lebih baik bila niat kita memajang ayat ayat suci tersebut untuk menunjukkan bahwa saya adalah Islam, saya menjalankan apa yang dimaksud dalam ayat ayat tersebut, atau mungkin kita berniat untuk diingatkan dengan melihat tulisan tersebut, setiap kali kita melihatnya, kita membacanya, kita ingat makna yang terkandung dalam ayat ayat tersebut. dan kita hidup dengan tuntunan ayat yang terkandung dalam tulisan tersebut dan kita dapat terhindah dari dosa dan maksiat.
Benarkah alquran dapat digunakan untuk mengusir setan
ada yang menyimpan alquran dalam rumah, disimpan dalam susunan yang paling atas, ditaruk ditempat yang istimewa…atau alquran hanya digunakan untuk memenuhi tempat penyimpanan buku belaka, sebagai koleksi.
Padahal dipegang aja gak pernah,
apalagi dibuka,
dan mustahil untuk pernah dibaca,
Karena diniatkan menyimpan alquran hanya untuk mengusir setan
karena memiliki keyakinan dengan menaruh alquran didalam rumah, setan tidak bakakan masuk ke dalam rumah kita. atau mungkin untuk menarik rezki kedalam rumah kita, emang fengsui, harus ditempel diatas pintu…
padahal itu tidak mungkin, apakah gudang tempat penyimpanan alquran jika ditaruh 1 ons emas tidak akan hilang emasnya?…..
berapa banyak alquran ditumpuk dirumah, setan akan tetap hadir. setan akan tetap kelayapan didalam rumah kita. setan tidak takut dengan fisik alquran, setan tidak takut dengan tulisan alquran. setan hanya takut pada orang yang beriman, orang yang senantiasa ingat pada Allah, orang yang selalu dalam lindungan Allah dan membaca ayat ayat suci alquran. rizki akan hadir pada setiap umat yang rajin dan tekun bekerja, dekat dengan Allah.
Al quran dibaca untuk meminta rejeki. dibaca ditempat tempat keramat, dikuburan. apa apaan pula itu, menjadikan syirik pada alquran. menjadikan syirik dikuburan. menduakan Allah itu syirik besar. kita sepatutnya meminta segala sesuatu hanya kepada Allah, kita hanya memohon pada Allah, berdoa pada Allah, tidak pada yang lain. kita baca surat waqiah seribu kalipun sampe dower kita tidak akan kaya, kalo tujuannya hanya untuk keperluan dunia semata. padahal isi surat wakiah mengenai hari kiamat, hisab, surga dan neraka.
Sebenarnya apa sih isi dan kandungan dalam ayat ayat suci alquran, jangan sampai kita salah kaprah dalam menggunakan isi dari ayat ayat suci alquran
Secara garis besar kandungan dalam Alquran adalah tuntunan bagaimana kita harus bersikap dalam menjalani hidup ini, supaya kita berada dalam jalur yang benar, jalur yang lurus, jalan yang diridloi oleh Allah swt. kandungan tersebut diantaranya adalah mengenai kepribadian kita, etika bermasyarakat, hak hak kita, hukum, berdagang, harta warisan atau rampasan perang, cerita bangsa bangsa terdahulu, mengenai ibadah (sholat, zakat, haji dll.), jihat, makanan dan minuman, pakaian dan perhiasan, mengenai alam dan tanda tanda kekuasaan Allah, gambaran surga dan neraka. tentang nabi nabi terdahulu.
jadi secara umum alquran sebagai mukjizat nabi muhammad saw, diturunkan tidak dengan kekuatan dasyat dan tidak pula untuk kesaktian. tetapi diturunkan dengan cinta damai untuk menyelamatkan kita, seluruh umat manusia, untuk membimbing kita menempuh jalan yang benar, jalan yang mengantarkan kita kembali ke jalan allah. dan untuk menyempurnakan ajaran ajaran sebelumnya.
adakah dalam alquran menjelaskan bagaimana mengusir setan?, adakah dalam alquran perintah ” bacalah ayat ini kelak kita akan kaya ( dapat uang ) ?. bacalah ayat itu kelak kita akan memiliki kekuatan seperti raksasa. tidak.
Semua kekuatan berasal dari Allah
semua rizki berasal dari Allah
setiap kejadian tidak luput dari ijin Allah
yang tepat untuk mencapai segala sesuatu adalah dengan mendekatkan diri pada Allah. dengan makrifatullah. bila kita dekat dengan Allah, bila kita selalu bersama Allah, insya Allah segala yang kita inginkan akan diijabah oleh Allah, setiap doa kita insya allah akan dikabulkan. yang lebih tepat lagi dengan membaca ayat ayat suci alquran dengan niat kita berdoa pada Allah, memohon bantuan pada allah. menyerahkan segala daya upaya pada Allah. dan segala sesuatu yang akan terjadi atas ijin Allah
Jadi Alquran diturunkan bukan untuk mengusir setan, tetapi untuk menjauhkan diri kita dari godaan setan. Al quran diturunkan bukan untuk membuat kita kaya mendadak, tetapi menuntun kita bagaimana mendapatkan rizki yang barokah. Al quran diturunkan untuk menyempurnakan kitab kitab sebelumnya. Al quran diturunkan untuk memberikan peringatan bagi kita, bagaimana keadaan hari akhir dan memperingatkan kita siapa yang kelak akan beruntung dan siapa yang kelak akan merugi. Al quran diturunkan untuk membimbing kita bagaimana menempuh jalan yang lurus, jalan yang diridloi Allah swt.
dipampang diruang tertentu dalam ukuran yang menakjupkan
membuat setiap orang yang melihat bergumam, woow … bagus sekali, woow indah sekali…, woow pasti mahal ya…, kita jumpai alquran hanya sebagai hiasan rumah. dosakan ini ? waullah hu alam. hanya Allah yang tahu. tergantung bagaimana niat kita saat memajang ayat ayat suci Alquran tersebut. akan lebih baik bila niat kita memajang ayat ayat suci tersebut untuk menunjukkan bahwa saya adalah Islam, saya menjalankan apa yang dimaksud dalam ayat ayat tersebut, atau mungkin kita berniat untuk diingatkan dengan melihat tulisan tersebut, setiap kali kita melihatnya, kita membacanya, kita ingat makna yang terkandung dalam ayat ayat tersebut. dan kita hidup dengan tuntunan ayat yang terkandung dalam tulisan tersebut dan kita dapat terhindah dari dosa dan maksiat.
Benarkah alquran dapat digunakan untuk mengusir setan
ada yang menyimpan alquran dalam rumah, disimpan dalam susunan yang paling atas, ditaruk ditempat yang istimewa…atau alquran hanya digunakan untuk memenuhi tempat penyimpanan buku belaka, sebagai koleksi.
Padahal dipegang aja gak pernah,
apalagi dibuka,
dan mustahil untuk pernah dibaca,
Karena diniatkan menyimpan alquran hanya untuk mengusir setan
karena memiliki keyakinan dengan menaruh alquran didalam rumah, setan tidak bakakan masuk ke dalam rumah kita. atau mungkin untuk menarik rezki kedalam rumah kita, emang fengsui, harus ditempel diatas pintu…
padahal itu tidak mungkin, apakah gudang tempat penyimpanan alquran jika ditaruh 1 ons emas tidak akan hilang emasnya?…..
berapa banyak alquran ditumpuk dirumah, setan akan tetap hadir. setan akan tetap kelayapan didalam rumah kita. setan tidak takut dengan fisik alquran, setan tidak takut dengan tulisan alquran. setan hanya takut pada orang yang beriman, orang yang senantiasa ingat pada Allah, orang yang selalu dalam lindungan Allah dan membaca ayat ayat suci alquran. rizki akan hadir pada setiap umat yang rajin dan tekun bekerja, dekat dengan Allah.
Al quran dibaca untuk meminta rejeki. dibaca ditempat tempat keramat, dikuburan. apa apaan pula itu, menjadikan syirik pada alquran. menjadikan syirik dikuburan. menduakan Allah itu syirik besar. kita sepatutnya meminta segala sesuatu hanya kepada Allah, kita hanya memohon pada Allah, berdoa pada Allah, tidak pada yang lain. kita baca surat waqiah seribu kalipun sampe dower kita tidak akan kaya, kalo tujuannya hanya untuk keperluan dunia semata. padahal isi surat wakiah mengenai hari kiamat, hisab, surga dan neraka.
Sebenarnya apa sih isi dan kandungan dalam ayat ayat suci alquran, jangan sampai kita salah kaprah dalam menggunakan isi dari ayat ayat suci alquran
Secara garis besar kandungan dalam Alquran adalah tuntunan bagaimana kita harus bersikap dalam menjalani hidup ini, supaya kita berada dalam jalur yang benar, jalur yang lurus, jalan yang diridloi oleh Allah swt. kandungan tersebut diantaranya adalah mengenai kepribadian kita, etika bermasyarakat, hak hak kita, hukum, berdagang, harta warisan atau rampasan perang, cerita bangsa bangsa terdahulu, mengenai ibadah (sholat, zakat, haji dll.), jihat, makanan dan minuman, pakaian dan perhiasan, mengenai alam dan tanda tanda kekuasaan Allah, gambaran surga dan neraka. tentang nabi nabi terdahulu.
jadi secara umum alquran sebagai mukjizat nabi muhammad saw, diturunkan tidak dengan kekuatan dasyat dan tidak pula untuk kesaktian. tetapi diturunkan dengan cinta damai untuk menyelamatkan kita, seluruh umat manusia, untuk membimbing kita menempuh jalan yang benar, jalan yang mengantarkan kita kembali ke jalan allah. dan untuk menyempurnakan ajaran ajaran sebelumnya.
adakah dalam alquran menjelaskan bagaimana mengusir setan?, adakah dalam alquran perintah ” bacalah ayat ini kelak kita akan kaya ( dapat uang ) ?. bacalah ayat itu kelak kita akan memiliki kekuatan seperti raksasa. tidak.
Semua kekuatan berasal dari Allah
semua rizki berasal dari Allah
setiap kejadian tidak luput dari ijin Allah
yang tepat untuk mencapai segala sesuatu adalah dengan mendekatkan diri pada Allah. dengan makrifatullah. bila kita dekat dengan Allah, bila kita selalu bersama Allah, insya Allah segala yang kita inginkan akan diijabah oleh Allah, setiap doa kita insya allah akan dikabulkan. yang lebih tepat lagi dengan membaca ayat ayat suci alquran dengan niat kita berdoa pada Allah, memohon bantuan pada allah. menyerahkan segala daya upaya pada Allah. dan segala sesuatu yang akan terjadi atas ijin Allah
Jadi Alquran diturunkan bukan untuk mengusir setan, tetapi untuk menjauhkan diri kita dari godaan setan. Al quran diturunkan bukan untuk membuat kita kaya mendadak, tetapi menuntun kita bagaimana mendapatkan rizki yang barokah. Al quran diturunkan untuk menyempurnakan kitab kitab sebelumnya. Al quran diturunkan untuk memberikan peringatan bagi kita, bagaimana keadaan hari akhir dan memperingatkan kita siapa yang kelak akan beruntung dan siapa yang kelak akan merugi. Al quran diturunkan untuk membimbing kita bagaimana menempuh jalan yang lurus, jalan yang diridloi Allah swt.
Selasa, 27 Desember 2011
Neraka... Zaman Sekarang...
Diriwayatkan dalam
ajaran kita, bahwa kehidupan setelah mati adalah alam akhirat. dalam
alam akhirat dibagi menjadi dua, neraka dan surga. kita pasti akan
menghuni salah satu diantaranya, gak ada pilihan ditengah tengah atau
tidak memilih sama sekali, emang kita bisa hidup abadi di dunia ini?
berapapun usia kita, bagaimanapun usaha kita, kita pasti akan mati.
seperti ajaran yang sering di berikan kepada kita, segala tindakan kejahatan, maksiat, pasti akan mengakibatkan dosa, dan semua orang berdosa pasti akan merasakan bagaimana mengintip neraka. dari semua cerita tentang neraka, benarkah neraka adalah sebuah tempat yang sangat menyeramkan ?.
Namun sebaliknya, setiap perbuatan yang mengandung kebaikan akan dibalas dengan posisi yang menyenangkan, disurga. tak perlu dipungkiri tentang cerita bagaimana rasanya hidup disurga, pasti akan lebih nikmat dari hidup didunia, pasti akan diceritakan yang enak enak. kehidupan yang kekal dan abadi. diriwayatkan seperti taman firdaus, mengalir sungai sungai dengan air susu dibawahnya, ditemani bidadari bidadari cantik yang selalu virgin, apa saja kebutuhan yang kita perlukan tinggal ambil, gak perlu bayar atau ngutang dengan kartu kredit. yang pasti amat sangat istimewa.
Tapi bagaimana pemahaman kebanyakan orang tentang neraka. menurut apa yang saya perhatikan saat ini, gejala yang timbul di masyarakat yang terpelajar, neraka adalah sebuah tempat yang menyenangkan, terfavorit. bagaimana tidak? semua bintang cantik nan seksi dari holywood adalah penghuninya, semua dukun kepercayaan kita ada didalamnya, para pengedar dan bandar pada ngumpul, rentenir, koruptor udah teken kontrak untuk singgah dineraka, para kafirin dan kafirun, dan masih banyak lagi.
kita sebagai masyarakat yang berpendidikan tinggi, atau minimal lulusan luar negeri, mengandalkan kemampuan logika yang kita miliki, menganalogikan gambaran neraka seperti asumsi mereka. “menurut logika manusia” itu yang salah. padalah kita yang hidup dunia tidak ada seorangpun yang pernah melihat bagaimana keadaan didalam neraka, atau membayangkan bagaimana kehidupan neraka yang sebenarnya. bagaimana rasanya neraka jahanam, neraka saqor atau neraka yang paling tinggi sekalipun. neraka hanya sebatas nama, sepertinya hanya terdengar seperti angin lalu. tidak ada gregetnya setiap kali kita mendengar kata neraka.
Beda sekali kalo kita jalan lewat tempat yang angker, mulut kita komat kamit, atau kalo kita mau lewat kuburan – dari jauh kita udah baca doa panjang banget karena takutnya. badan bergetar dan bulu kuduk berdiri, atau pas bos kita marah aja kita udah kalang kabut, sepertinya ungkapan diatas lebih seram dari neraka.
Neraka bukan lagi sebagai tempat yang menakutkan, sebagai tempat yang sangat dikeramatkan, nama yang amat sangat ditakuti, tempat yang harus dihindari. bahkan banyak anak jaman sekarang berebut tempat untuk absen dineraka. kita contohkan bagaimana mudahnya kita menemukan miras di toko hpermarket, bagaimana kita dapat dengan mudah menemukan iklan para kupu kupu malam di internet atau koran, bagaimana mudahnya ditemui para orang pintar mengiklankan jasa mereka. koruptor, penipuan, pembunuhan meningkat tajam. bahkan informasi yang paling laku sekarang adalah eksploitasi tempat maksiat, tempat dugem, berita tentang jakarta underground, adalah segala hal yang menyesatkan sekarang semakin tampak dipermukaan, tidak malu malu, justru semakin terus terang, inikah yang dinamakan globalisasi, modernisasi, padahal jalan itu jalan pintas menuju neraka
Walaupun sudah diperingatkan banyak ulama, “…kalian nanti pasti akan masuk neraka”. tapi apa kata mereka? jawabnya pasti “gak pa pa, yang penting sekarang enak dulu, yang penting sekarang senang senang dulu”, . apalagi menurut kebudayaan kita mumpung masih muda kita puas puasin, mengumbar hawa nafsu jelek kita, ntar kalo dah nikah kita gak bakalan bisa gini lagi, ntar kalo dah tua udah gak kuat lagi. tentunya mereka tidak memikirkan bagaimana bila allah akan memanggil kita lebih cepat, sebelum menikah,,, sebelum tua, ,,sebelum kita menikmati hasilnya,,, sebelum kita bertaubat.
tiga hal yang tidak kita ketahui dan tidak dapat diperhitungkan adalah kelahiran, rejeki dan kematian.
baru baru ini ada kejadian yang nauzdubillah.. ditemukan sepasang insan telah meninggal dalam mobil dan baru ditemukan setelah 4 hari diarea parkir di kawasan wisata ancol. siapa yang akan mengira dipanggil allah dalam keadaan sedang maksiat?. Allah memiliki berjuta cara untuk memanggil kita. dalam sakit atau sehat, senang atau sedih, kaya atau miskin, dtempat yang aman sekalipun.
Wallahualam bi shawab
seperti ajaran yang sering di berikan kepada kita, segala tindakan kejahatan, maksiat, pasti akan mengakibatkan dosa, dan semua orang berdosa pasti akan merasakan bagaimana mengintip neraka. dari semua cerita tentang neraka, benarkah neraka adalah sebuah tempat yang sangat menyeramkan ?.
Namun sebaliknya, setiap perbuatan yang mengandung kebaikan akan dibalas dengan posisi yang menyenangkan, disurga. tak perlu dipungkiri tentang cerita bagaimana rasanya hidup disurga, pasti akan lebih nikmat dari hidup didunia, pasti akan diceritakan yang enak enak. kehidupan yang kekal dan abadi. diriwayatkan seperti taman firdaus, mengalir sungai sungai dengan air susu dibawahnya, ditemani bidadari bidadari cantik yang selalu virgin, apa saja kebutuhan yang kita perlukan tinggal ambil, gak perlu bayar atau ngutang dengan kartu kredit. yang pasti amat sangat istimewa.
Tapi bagaimana pemahaman kebanyakan orang tentang neraka. menurut apa yang saya perhatikan saat ini, gejala yang timbul di masyarakat yang terpelajar, neraka adalah sebuah tempat yang menyenangkan, terfavorit. bagaimana tidak? semua bintang cantik nan seksi dari holywood adalah penghuninya, semua dukun kepercayaan kita ada didalamnya, para pengedar dan bandar pada ngumpul, rentenir, koruptor udah teken kontrak untuk singgah dineraka, para kafirin dan kafirun, dan masih banyak lagi.
kita sebagai masyarakat yang berpendidikan tinggi, atau minimal lulusan luar negeri, mengandalkan kemampuan logika yang kita miliki, menganalogikan gambaran neraka seperti asumsi mereka. “menurut logika manusia” itu yang salah. padalah kita yang hidup dunia tidak ada seorangpun yang pernah melihat bagaimana keadaan didalam neraka, atau membayangkan bagaimana kehidupan neraka yang sebenarnya. bagaimana rasanya neraka jahanam, neraka saqor atau neraka yang paling tinggi sekalipun. neraka hanya sebatas nama, sepertinya hanya terdengar seperti angin lalu. tidak ada gregetnya setiap kali kita mendengar kata neraka.
Beda sekali kalo kita jalan lewat tempat yang angker, mulut kita komat kamit, atau kalo kita mau lewat kuburan – dari jauh kita udah baca doa panjang banget karena takutnya. badan bergetar dan bulu kuduk berdiri, atau pas bos kita marah aja kita udah kalang kabut, sepertinya ungkapan diatas lebih seram dari neraka.
Neraka bukan lagi sebagai tempat yang menakutkan, sebagai tempat yang sangat dikeramatkan, nama yang amat sangat ditakuti, tempat yang harus dihindari. bahkan banyak anak jaman sekarang berebut tempat untuk absen dineraka. kita contohkan bagaimana mudahnya kita menemukan miras di toko hpermarket, bagaimana kita dapat dengan mudah menemukan iklan para kupu kupu malam di internet atau koran, bagaimana mudahnya ditemui para orang pintar mengiklankan jasa mereka. koruptor, penipuan, pembunuhan meningkat tajam. bahkan informasi yang paling laku sekarang adalah eksploitasi tempat maksiat, tempat dugem, berita tentang jakarta underground, adalah segala hal yang menyesatkan sekarang semakin tampak dipermukaan, tidak malu malu, justru semakin terus terang, inikah yang dinamakan globalisasi, modernisasi, padahal jalan itu jalan pintas menuju neraka
Walaupun sudah diperingatkan banyak ulama, “…kalian nanti pasti akan masuk neraka”. tapi apa kata mereka? jawabnya pasti “gak pa pa, yang penting sekarang enak dulu, yang penting sekarang senang senang dulu”, . apalagi menurut kebudayaan kita mumpung masih muda kita puas puasin, mengumbar hawa nafsu jelek kita, ntar kalo dah nikah kita gak bakalan bisa gini lagi, ntar kalo dah tua udah gak kuat lagi. tentunya mereka tidak memikirkan bagaimana bila allah akan memanggil kita lebih cepat, sebelum menikah,,, sebelum tua, ,,sebelum kita menikmati hasilnya,,, sebelum kita bertaubat.
tiga hal yang tidak kita ketahui dan tidak dapat diperhitungkan adalah kelahiran, rejeki dan kematian.
baru baru ini ada kejadian yang nauzdubillah.. ditemukan sepasang insan telah meninggal dalam mobil dan baru ditemukan setelah 4 hari diarea parkir di kawasan wisata ancol. siapa yang akan mengira dipanggil allah dalam keadaan sedang maksiat?. Allah memiliki berjuta cara untuk memanggil kita. dalam sakit atau sehat, senang atau sedih, kaya atau miskin, dtempat yang aman sekalipun.
Wallahualam bi shawab
Minggu, 25 Desember 2011
Makna Rezeki Yang Berkah
“Doakan saya mendapat rezeki yang banyak ya Bulik..”
Bukan banyak! tapi yang terpenting, barokah Nak..”
Meski rezekimu banyak kalau tidak barokah..percuma saja.
Tidak ada ketenangan hidup, masalah sulit dicari jalan keluarnya, jasmani tidak sehat,anak bukan menjadi penyejuk hati tapi malah makan hati,suami istri berantem tiap hari,dan banyak lagi permasalahan yang seolah tidak ada ujungnya.
Pesan ini selalu teringat di benak saya hingga kini..
Bukan BANYAK tapi yang penting BAROKAH.
Seperti apa rezeki yang barokah itu?
Umur yang barokah?
Serta keluarga yang barokah?
Terkadang kita sebagai manusia sering lupa untuk bersyukur pada Allah karena saking banyaknya nikmat yang diberikan, sampai seolah terasa tidak ada nikmat yang diberikan olehNya.
Betapa kufurnya kita.. padahal jika kita sadar,satu saja nikmat dicabut Allah..kita sudah kelabakan, bingung bagaimana mencari solusinya.Coba saja jika tiba-tiba Allah menutup saluran pembuangan kita, berhari-hari kita tidak bisa buang air besar maupun kecil. Kira-kira berapa ratus juta akan kita keluarkan untuk menormalkan kembali saluran pembuangan kita?
Jika sudah demikian rezeki banyak yang senantiasa diminta kepada Allah akan berkurang banyak pula untuk kesembuhan kita. Yang demikian ini rezeki yang kita terima tidak barokah,entah cara mencarinya yang salah… atau mendapatkannya dengan mendzalimi orang lain.
Beda dengan orang yang diberikan rezeki sedikit tapi barokah.Ia akan dicukupkan hidupnya oleh Allah, keinginannya senantiasa terkendali terhadap hal-hal yang menjadi kebutuhannya, apa yang dimakannya memberikan kesehatan dan ketentraman dalam hidupnya, keluarga menjadi penyejuk hati, ayah,ibu dan anak saling mengerti akan keadaan, diberi kecerdasan dan kesabaran dalam menjalani hidup dan yang terpenting diberi kenikmatan untuk menjalankan ibadah,menjaga keimanan untuk taat pada Allah.
Bagaimana caranya mendapatkan rezeki yang barokah? menjadikan umur kita barokah? sehingga pada akhirnya keluarga kita merasakan barokah dari Allah.
Islam telah menuntun kita agar senantiasa mencari rezeki yang halal (baik caranya maupun wujudnya) dan menjauhkan diri kita dari rezeki yang haram, tinggal kita sendiri bisa tidak menjalaninya.
Ketika apa yang kita inginkan tercapai,misal mendapatkan uang dengan cara yang halal, lantas digunakan untuk apa uang ini?
- apakah sekedar kita belanjakan hingga habis untuk segala keperluan kita?
- apakah terlebih dulu kita menyisihkan sebagian untuk dizakatkan?
- atau mungkin kita gunakan untuk banyak bersedekah?
- atau bahkan kita gunakan untuk hal-hal yang salah, yang tidak mendapatkan ridho Allah?
Semua hal di atas menentukan rezeki yang kita terima dari Allah menjadi berkah atau tidak dalam kehidupan kita.
Demikian pula dengan umur yang kita miliki.. kita manfaatkan untuk apa umur kita?
- apakah digunakan untuk beribadah kepada Allah dan bekerja sebagai sarana mencukupi kebutuhan hidup?
- atau mungkin digunakan untuk berbagi ilmu terhadap sesama?
- atau bahkan hanya digunakan untuk berfoya-foya menghabiskan harta yang dimilik?
Ketika umur yang kita miliki dimanfaatkan untuk hal-hal yang bisa mendapatkan ridho Allah,insyaAllah umur kita menjadi berkah..tetapi jika tidak.. mungkin banyak permasalahan yang melanda hidup kita, yang membuat seseorang apatis menjalani hidup.
Saudaraku, hidup di dunia ini memang menyenangkan.. namun janganlah lupa ada kehidupan lagi di Yaumil Akhir yang harus kita perjuangkan sejak kita di dunia. Bukan justru kita abaikan…
Apa yang kita dapatkan saat ini hendaknya menjadi sarana agar kita memiliki bekal untuk hari esok karena kelak di Yaumil Akhir kita akan melaluinya lebih lama daripada di dunia.
Marilah mulai sekarang kita belajar mensyukuri nikmat yang Allah berikan, bukan hanya nikmat harta benda tetapi nikmat Islam,Iman dan ihsan.. Bersyukur bukan hanya mengucapkan Alhamdulilah, tetapi juga banyak berbagi baik harta maupun ilmu pada sesama. Mencari rezeki dengan cara yang halal dan tidak mendzalimi orang lain, membersihkan penghasilan dengan mengeluarkan zakat,memanfaatkan rezeki untuk hal-hal yang diridhoi Allah.. InsyaAllah rezeki,umur dan kehidupan kita akan mendapat barokah dariNya.Amin..
Ya Allah Ya Razaq..
Jadikanlah rezeki yang engkau berikan cukup bagi kami,
Jadikan kami bermanfaat bagi lingkungan sekitar kami
Berkahilah pekerjaan,rezeki,keluarga dan umur kami Ya Rahman…
Amin..
Bukan banyak! tapi yang terpenting, barokah Nak..”
Meski rezekimu banyak kalau tidak barokah..percuma saja.
Tidak ada ketenangan hidup, masalah sulit dicari jalan keluarnya, jasmani tidak sehat,anak bukan menjadi penyejuk hati tapi malah makan hati,suami istri berantem tiap hari,dan banyak lagi permasalahan yang seolah tidak ada ujungnya.
Pesan ini selalu teringat di benak saya hingga kini..Bukan BANYAK tapi yang penting BAROKAH.
Seperti apa rezeki yang barokah itu?
Umur yang barokah?
Serta keluarga yang barokah?
Terkadang kita sebagai manusia sering lupa untuk bersyukur pada Allah karena saking banyaknya nikmat yang diberikan, sampai seolah terasa tidak ada nikmat yang diberikan olehNya.
Betapa kufurnya kita.. padahal jika kita sadar,satu saja nikmat dicabut Allah..kita sudah kelabakan, bingung bagaimana mencari solusinya.Coba saja jika tiba-tiba Allah menutup saluran pembuangan kita, berhari-hari kita tidak bisa buang air besar maupun kecil. Kira-kira berapa ratus juta akan kita keluarkan untuk menormalkan kembali saluran pembuangan kita?
Jika sudah demikian rezeki banyak yang senantiasa diminta kepada Allah akan berkurang banyak pula untuk kesembuhan kita. Yang demikian ini rezeki yang kita terima tidak barokah,entah cara mencarinya yang salah… atau mendapatkannya dengan mendzalimi orang lain.
Beda dengan orang yang diberikan rezeki sedikit tapi barokah.Ia akan dicukupkan hidupnya oleh Allah, keinginannya senantiasa terkendali terhadap hal-hal yang menjadi kebutuhannya, apa yang dimakannya memberikan kesehatan dan ketentraman dalam hidupnya, keluarga menjadi penyejuk hati, ayah,ibu dan anak saling mengerti akan keadaan, diberi kecerdasan dan kesabaran dalam menjalani hidup dan yang terpenting diberi kenikmatan untuk menjalankan ibadah,menjaga keimanan untuk taat pada Allah.
Bagaimana caranya mendapatkan rezeki yang barokah? menjadikan umur kita barokah? sehingga pada akhirnya keluarga kita merasakan barokah dari Allah.
Islam telah menuntun kita agar senantiasa mencari rezeki yang halal (baik caranya maupun wujudnya) dan menjauhkan diri kita dari rezeki yang haram, tinggal kita sendiri bisa tidak menjalaninya.
Ketika apa yang kita inginkan tercapai,misal mendapatkan uang dengan cara yang halal, lantas digunakan untuk apa uang ini?
- apakah sekedar kita belanjakan hingga habis untuk segala keperluan kita?
- apakah terlebih dulu kita menyisihkan sebagian untuk dizakatkan?
- atau mungkin kita gunakan untuk banyak bersedekah?
- atau bahkan kita gunakan untuk hal-hal yang salah, yang tidak mendapatkan ridho Allah?
Semua hal di atas menentukan rezeki yang kita terima dari Allah menjadi berkah atau tidak dalam kehidupan kita.
Demikian pula dengan umur yang kita miliki.. kita manfaatkan untuk apa umur kita?
- apakah digunakan untuk beribadah kepada Allah dan bekerja sebagai sarana mencukupi kebutuhan hidup?
- atau mungkin digunakan untuk berbagi ilmu terhadap sesama?
- atau bahkan hanya digunakan untuk berfoya-foya menghabiskan harta yang dimilik?
Ketika umur yang kita miliki dimanfaatkan untuk hal-hal yang bisa mendapatkan ridho Allah,insyaAllah umur kita menjadi berkah..tetapi jika tidak.. mungkin banyak permasalahan yang melanda hidup kita, yang membuat seseorang apatis menjalani hidup.
Saudaraku, hidup di dunia ini memang menyenangkan.. namun janganlah lupa ada kehidupan lagi di Yaumil Akhir yang harus kita perjuangkan sejak kita di dunia. Bukan justru kita abaikan…
Apa yang kita dapatkan saat ini hendaknya menjadi sarana agar kita memiliki bekal untuk hari esok karena kelak di Yaumil Akhir kita akan melaluinya lebih lama daripada di dunia.
Marilah mulai sekarang kita belajar mensyukuri nikmat yang Allah berikan, bukan hanya nikmat harta benda tetapi nikmat Islam,Iman dan ihsan.. Bersyukur bukan hanya mengucapkan Alhamdulilah, tetapi juga banyak berbagi baik harta maupun ilmu pada sesama. Mencari rezeki dengan cara yang halal dan tidak mendzalimi orang lain, membersihkan penghasilan dengan mengeluarkan zakat,memanfaatkan rezeki untuk hal-hal yang diridhoi Allah.. InsyaAllah rezeki,umur dan kehidupan kita akan mendapat barokah dariNya.Amin..
Ya Allah Ya Razaq..
Jadikanlah rezeki yang engkau berikan cukup bagi kami,
Jadikan kami bermanfaat bagi lingkungan sekitar kami
Berkahilah pekerjaan,rezeki,keluarga dan umur kami Ya Rahman…
Amin..
Berbakti Kepada Orang Tua
Ketika ibu dari Iyas bin Muawiyah wafat, Iyas meneteskan air mata tanpa meratap (niyahah), lalu beliau ditanya tentang sebab tangisannya, jawabnya,”Allah bukakan untukku dua pintu masuk jannah, sekarang, satu pintu telah ditutup.”
Begitulah, orangtua adalah pintu jannah, bahkan pintu yang paling tengah diantara pintu-pintu yang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Orangtua adalah pintu jannah yang paling tengah, terserah kamu, hendak kamu terlantarkan ia, atau kamu hendak menjaganya.” (HR Tirmidzi). Al-Qadhi berkata, ” Maksud pintu jannah yang paling tengah adalah pintu yang paling bagus dan paling tinggi. Dengan kata lain, sebaik-baik sarana yang bisa mengantarkan seseorang ke dalam jannah dan meraih derajat yang tinggi adalah dengan mentaati orangtua dan menjaganya.”
Bersyukurlah jika kita masih memiliki orangtua, karena di depan kita ada pintu jannah yang lebar menganga. Terlebih bila orangtua telah berusia lanjut. Dalam kondisi tak berdaya, atau mungkin sudah pelupa, pikun atau tak mampu lagi merawat dan menjaga dirinya sendiri, persis seperti bayi yang baru lahir.
Rata-rata manusia begitu antusias dan bersuka cita tatkala memandikan bayinya, mencebokinya dan merawatnya dengan wajah ceria. Berbeda halnya dengan sikapnya terhadap orangtuanya yang kembali menjadi seperti bayi. Rasa malas, bosan dan kadang kesal seringkali terungkap dalam kata dan perilaku. Mengapa? Mungkin karena ia hanya berorientasi kepada dunia, si bayi bisa diharapkan nantinya produktif, sedangkan orang yang tua renta, tak lagi diharapkan kontribusinya. Andai saja kita berorientasi akhirat, sungguh kita akan memperlakukan orangtua kita yang tua renta dengan baik, karena hasil yang kita panen lebih banyak dan lebih kekal.
Sungguh terlalu, orang yang mendapatkan orangtuanya berusia lanjut, tapi ia tidak masuk jannah, padahal kesempatan begitu mudah baginya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sungguh celaka… sungguh celaka… sungguh celaka..”, lalu dikatakan,”Siapakah itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Yakni orang yang mendapatkan salah satu orangtuanya, atau kedua orangtuanya berusia lanjut, namun ia tidak masuk jannah.” (HR Muslim)
Ia tidak masuk jannah karena tak berbakti, tidak mentaati perintahnya, tidak berusaha membuat senang hatinya, tidak meringankan kesusahannya, tidak menjaga kata-katanya, dan tidak merawatnya saat mereka tak lagi mampu hidup mandiri. Saatnya kita berkaca diri, sudahkah layak kita disebut sebagai anak berbakti?
Langganan:
Postingan (Atom)


