Selasa, 31 Januari 2012

Kezuhudan Gubernur Itu Membuat Umar Menangis

Said bin Umar al Jumahi, termasuk seorang pemuda di antara ribuan orang yang pergi ke Tan’im, di luar kota Makkah. Mereka berbondong-bondong ke sana, dikerahkan para pemimpin Quraisy untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati terhadap Khubaib bin Adi, yaitu seorang sahabat Nabi yang mereka hukum tanpa alasan.
Dengan semangat muda yang menyala-nyala, Said maju menerobos orang banyak yang berdesak-desakan. Akhirnya dia sampai ke depan, sejajar dengan tempat duduk orang-orang penting, seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayah dan lain-lain.
Kaum kafir Quraisy sengaja mempertontonkan tawanan mereka dibelenggu. Sementara para wanita, anak-anak dan pemuda, menggiring Khubaib ke lapangan maut. Mereka ingin membalas dendam terhadap Nabi Muhammad saw, serta melampiaskan sakit hati atas kekalahan mereka dalam perang Badar. Ketika tawanan yang mereka giring sampai ke tiang salib yang telah disediakan, Said mendongakkan kepala melihat kepada Khubaib bin Adi. Said mendengar suara Khubaib berkata dengan mantap, ”Jika kalian bolehkan, saya ingin shalat dua rakaat sebelum saya kalian bunuh…”
Kemudian Said melihat Khubaib menghadap ke kiblat (Ka’bah). Dia shalat dua rakaat. Alangkah bagus dan sempurnanya shalatnya itu. Sesudah shalat, Khubaib menghadap kepada para pemimpin Quraisy seraya berkata, ”Demi Allah! Seandainya kalian tidak akan menuduhku melama-lamakan shalat untuk mengulur-ngulur waktu karena takut mati, niscaya saya akan shalat lagi.” Mendengar ucapan Khubaib tersebut, Said melihat para pemimpin Quraisy naik darah, bagaikan hendak mencincang-cincang tubuh Khubaib hidup-hidup. Kata mereka, ”Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebeskan?”
“Saya tidak ingin bersenang-senang dengan istri dan anak-anak saya, sementara Muhammad tertusuk duri,” jawab Khubaib mantap.
“Bunuh dia! Bunuh dia!” teriak orang banyak. Said melihat Khubaib telah dipakukan ke tiang salib. Dia mengarahkan pandangannya ke langit sambil berdoa,”Ya Allah! Hitunglah jumlah mereka! Hancurkan mereka semua. Jangan disisakan seorang jua pun!”
Tidak lama kemudian Khubaib menghembuskan nafasnya yang terakhir di tiang salib. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka karena tebasan pedang dan tikaman tombak yang tak terbilang jumlahnya.
Kaum Kafir Quraisy kembali ke Makkah biasa-biasa saja. Seolah-olah mereka telah melupakan peristiwa maut yang merenggut jiwa Khubaib dengan sadis. Tetapi Said bin Amir al Jumahi yang baru meningkat remaja tidak dapat melupakan Khubaib walau ‘sedetikpun’. Sehingga dia bermimpi melihat Khubaib menjelma dihadapannya. Dia seakan-akan melihat Khubaib menjelma di hadapannya. Dia seakan-akan melihat Khubaib shalat dua rakaat dengan khusyu’ dan tenang di bawah tiang salib. Seperti terdengar olehnya rintihan suara Khubaib mendoakan kaum kafir Quraisy. Karena itu Said ketakutan kalau-kalau Allah SWT segera mengabulkan doa Khubaib, sehingga petir dan halilintar menyambar kaum Quraisy. Keberanian dan ketabahan Khubaib menghadapi maut mengajarkan Said beberapa hal yang belum pernah diketahuinya selama ini.
Pertama, hidup yang sesungguhnya adalah hidup beraqidah, beriman, kemudian berjuang mempertahankan aqidah itu sampai mati.
Kedua, iman yang telah terhunjam di hati seseorang dapat menimbulkan hal-hal yang ajaib dan luar biasa.
Ketiga, orang yang paling dicintai Khubaib ialah sahabatnya, yaitu seorang Nabi yang dikukuhkan dari langit.
Sejak itu Allah SWT membukakan hati Said bin Amir untuk menganut agama Islam. Kemudian dia berpidato di hadapan khalayak ramai, menyatakan: ‘alangkah bodohnya orang Quraisy menyembah berhala’. Karena itu dia tidak mau terlibat dalam kebodohan itu. Lalu dibuangnya berhala-berhala yang dipujanya selama ini. Kemudian diumumkannya, mulai saat itu dia masuk Islam. Tidak lama sesudah itu, Said menyusul kaum Muslimin hijrah ke Madinah. Di sana dia senantiasa mendampingi Nabi saw. Dia ikut berperang bersama beliau, mula-mula dalam peperangan Khaibar. Kemudian dia selalu turut berperang dalam setiap peperangan berikutnya.
Setelah Nabi saw berpulang ke rahmatullah, Said tetap menjadi pembela setia Khalifah Abu Bakar dan Umar. Dia menjadi teladan satu-satunya bagi orang-orang mukmin yang membeli kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Dia lebih mengutamakan keridhaan Allah dan pahala daripada-Nya di atas segala keinginan hawa nafsu dan kehendak jasad.
Kedua khalifah Rasulullah, Abu Bakar dan Umar bin Khattab, mengerti bahwa ucapan-ucapan Said sangat berbobot dan taqwanya sangat tinggi. Karena itu keduanya tidak keberatan mendengar dan melaksanakan nasihat-nasihat Said.
Pada suatu hari di awal pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Said datang kepadanya memberi nasihat. Kata Said,”Ya Umar! Takutlah kepada Allah dalam memerintah manusia. Jangan takut kepada manusia dalam menjalankan agama Allah! Jangan berkata berbeda dengan perbuatan. Karena sebaik-baik perkataan ialah yang dibuktikan dengan perbuatan. Hai Umar! Tujukanlah seluruh perhatian Anda kepada urusan kaum Muslimin, baik yang jauh maupun yang dekat. Berikan kepada mereka apa yang Anda dan keluarga sukai. Jauhkan dari mereka apa-apa yang Anda dan keluarga tidak sukai. Arahkan semua karunia Allah kepada yang baik. Jangan hiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci.” “Siapakah yang sanggup melaksanakan semua itu, hai Said?” Tanya Khalifah Umar. “Tentu orang seperti Anda! Bukankah Anda telah dipercayai Allah memerintah umat Muhammad ini? Bukankah antara Anda dengan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?” jawab Said meyakinkan.
Pada suatu ketika Khalifah Umar memanggil Said untuk diserahi suatu jabatan dalam pemerintahan. “Hai Said! Engkau kami angkat menjadi Gubernur di Himsh!” kata Khalifah Umar.
“Wahai Umar! Saya mohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya condong kepada dunia,” kata Said.
“Celaka engkau!” Balas Umar marah. “Engkau pikulkan beban pemerintahan ini di pundakku, tetapi kemudian engkau menghindar dan membiarkanku repot sendiri.”
“Demi Allah! Saya tidak akan membiarkan Anda,” jawab Said.
Kemudian Khalifah Umar melantik Said menjadi gubernur di Himsh. Sesudah pelantikan khalifah Umar bertanya kepada Said, ”Berapa gaji yang Engkau inginkan?”
“Apa yang harus saya perbuat dengan gaji itu, ya Amirul Mukminin?” jawab Said balik bertanya. “Bukankah penghasilan saya dari Baitul Mal sudah cukup?” Tidak berapa lama setelah Said memerintah di Himsh, sebuah delegasi datang menghadap khalifah Umar di Madinah. Delegasi itu terdiri dari penduduk Himsh yang ditugasi Khalifah mengamat-amati jalannya pemerintahan di Himsh.
Dalam pertemuan dengan delegasi tersebut, Khalifah Umar meminta daftar fakir miskin Himsh untuk diberikan santunan. Delegasi mengajukan daftar yang diminta khalifah. Di dalam daftar tersebut terdapat nama-nama di Fulan, dan nama Said bin Amir al Jumahi.
Ketika Khalifah meneliti daftar tersebut, beliau menemukan nama Said bin Amir al Jumahi. Lalu beliau bertanya, ”Siapa Said bin Amir yang kalian cantumkan ini?”
“Gubernur kami!” jawab mereka. “Betulkah gubernur kalian miskin?” jawab Khalifah heran.
“Sungguh, ya Amirul Mukminin! Demi Allah! Seringkali di rumahnya tidak kelihatan tanda-tanda api menyala (tidak memasak),” jawab mereka meyakinkan.
Mendengar perkataan itu, Khalifah Umar menangis, sehingga air mata beliau meleleh membasahi jenggotnya. Kemudian beliau mengambil sebuah pundit-pundi berisi uang seribu dinar.
“Kembalilah kalian ke Himsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Said bin Amir, dan uang ini saya kirimkan untuk beliau, guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah tangganya,” ucap Umar sedih.
Setibanya di Himsh, delegasi itu segera menghadap Gubernur Said, menyampaikan salam dan uang kiriman Khalifah untuk beliau. Setelah Gubernur Said melihat pundi-pundi berisi uang dinar, pundi-pundi itu dijauhkannya dari sisinya seraya berucap, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (kita milik Allah dan pasti kembali kepada Allah). Mendengar ucapannya itu, seolah-olah suatu mara bahaya sedang menimpanya. Karena itu istrinya segera menghampiri seraya bertanya, ”Apa yang terjadi, hai Said? Meninggalkah Amirul Mukminin?”
“Bahkan lebih besar dari itu!” jawab Said sedih. “Apakah tentara kaum Muslimin kalah berperang?” tanya istrinya lagi. “Jauh lebih besar dari itu!” jawab Said tetap sedih. “Apa pulalah gerangan yang lebih dari itu?” tanya istrinya tak sabar. “Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah tangga kita,” jawab Said mantap.
“Bebaskan dirimu daripadanya!” kata istri Said memberi semangat, tanpa mengetahui perihal adanya pundi-pundi uang yang dikirimkan Khalifah Umar untuk pribadi suaminya.
“Maukah engkau menolongku berbuat demikian?” Tanya Said.
“Tentu!” jawab istrinya bersemangat. Maka Said mengambil pundi-pundi uang itu, lalu disuruhnya istrinya membagi-bagikan kepada fakir miskin.
(Sumber: Kepahlawanan Dalam Generasi Sahabat Karangan DR. Abdurrahman Raf'at Basya/Nuim Hidayat)

Sumber : www.eramuslim.com

Seindah Sahabat Mencintai Rasulullah: Detik Terakhir


dakwatuna.com – Genderang perang sebentar lagi ditabuh. Badar tak lama lagi akan berkecamuk. Sang Rasul, bergegas menyiapkan pasukan kaum muslimin. Inspeksi pun dimulai. Sambil memegang sebuah anak panah, panglima kaum muslimin itu pun memeriksa pasukan, satu persatu.
Tibalah beliau di hadapan Sawwad bin Ghazyah. Posisi tubuhnya agak melenceng dari barisan. Dia tidak berbaris rapi. “Luruskan barisanmu, wahai Sawwad!” Hardik Rasul sambil memecutkan anak panah di genggamannya ke perut Sawwad.
“Wahai Rasulullah!” sergah Sawwad, “Engkau telah membuat perutku kesakitan,” akunya “Dan bukankah Allah telah mengutusmu dengan kebenaran dan keadilan. Biarkan aku membalasmu.” pinta Sawwad kepada Rasul. Sontak, semua sahabat yang mendengar ucapan Sawwad ini terkaget. Selancang inikah Sawwad kepada Rasul yang mereka cintai?
Tapi Rasul tak berpikir panjang. Beliau singkapkan bagian pakaiannya. Tampak putih kulit perutnya.     “Silakan, balaslah!” tegas sang Rasul mempersilakan Sawwad membalas pukulan ke perutnya.
Hati para sahabat berdebar-debar. Pikiran mereka disesaki seribu tanya. Sedemikian nekadnya kah Sawwad? Apa yang ia pikirkan hingga ingin melakukan perbuatan terkutuk itu? Bukankah Rasul adalah komandannya dan pemimpin mereka di medan tempur? Dan bukankah pukulan ke perutnya itu adalah ganjaran atas ulah kecerobohannya? Ah, mana mungkin kekasih pilihan mereka ini akan disakiti. Hati mereka seakan berontak. Tapi apa daya, Sang Rasul telah mengambil putusan. Dan Sawwad pun sedang mengambil ancang-ancang.
Saat pikiran para sahabat mulia itu masih berkecamuk dengan sejuta tanya. Secepat kilat Sawwad menyergap perut Sang Rasul. Dipeluknya tubuh manusia termulia itu. Diciumnya halus kulit Hamba dan utusan Allah yang dia cintai. Beraur haru, para sahabat semakin terheran.
“Apa yang mendorongmu melakukan hal seperti ini, hai Sawwad!” tanya Rasul setelah beliau menyaksikan apa yang dilakukan Sawwad.
“Wahai Rasulullah!” Jawab Sawwad, “Engkau telah menyaksikan apa yang kau lihat. Aku ingin di detik terakhirku membersamaimu, kulitku bisa menyentuh kulit (tubuhmu).” aku Sawwad blakblakan namun penuh ketulusan.
Para sahabat terharu. Mereka baru mengerti apa yang diinginkan Sawwad. Maka mengalirlah do’a-do’a Rasulullah untuk keberkahan sahabatnya yang unik ini. Tanpa terasa, apa yang dilakukan Sawwad telah menyirami komitmen mereka untuk mencintai rasul-Nya. Seperti inilah para sahabat mencintai Rasulullah. Adakah kita mencintainya setulus sahabat mencintainya?
Kisah ini bersumber dari atsar yang diriwayatkan Ishak dari Ibnu Hibban dari Was’i dari para syekh kaumnya. Dan dinukil Syekh Walid al ‘Adzami dalam bukunya Ar Rasuul Fii Quluubi ash haabihii yang diterjemahkan (dengan sedikit tambahan redaksional) oleh Ufuk Islam. Beberapa referensi yang bisa dijadikan rujukan tentang kisah ini: Sirah Ibnu Hisyam (jilid 2 halaman 279-280), Tarikh At Thabari (3/1319), Al Isti’ab (2/673) dan beberapa referensi lainnya.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/18334/seindah-sahabat-mencintai-rasulullah-detik-terakhir/#ixzz1kymosZUx

Sabtu, 28 Januari 2012

Pertolongan Allah, Bukan Kebetulan


Artikel Lepas
23/1/2012 | 28 Shafar 1433 H | Hits: 1.627
Oleh: Wafiyyatunnisa Asy syu'lah



 dakwatuna.com - Terinspirasi dari sebuah kisah, tentang kesaksian seseorang yang mengalami kejadian nyata yang menakjubkan, Yusuf bin Husain, yang dikisahkan oleh Ibnu Qudamah, dan saya baca pada cuplikan novel “BUMI CINTA” yang ditulis oleh ustadz Habiburrahman El Shirazy (kang Abik). Berikut kisahnya:

    “Pernah suatu ketika aku bersama Dzun Nun Al Mishri berada di tepian sebuah anak sungai. Aku melihat seekor kalajengking besar di tempat itu. Tiba-tiba ada seekor katak muncul ke permukaan, dan kalajengking itu kemudian naik di atas punggungnya. Kemudian sang katak itu berenang menyeberangi sungai.

    Dzun Nun Al Mishri berkata, ‘ada yang aneh dengan kalajengking itu, mari kita ikuti dia!’

    Maka kami lantas menyeberang mengikuti kalajengking yang digendong katak itu. Kami terperanjat ketika menjumpai seseorang tertidur di tepian sungai yang nampaknya habis mabuk. Dan di sampingnya ada seekor ular yang mulai menjalar dari pusar hingga ke dadanya, kiranya ular tersebut hendak menggigit telinganya.

    Kami lalu menyaksikan kejadian luar biasa. Kalajengking itu tiba-tiba melompat secepat kilat ke tubuh ular itu dan menyengat ular itu sejadi-jadinya, hingga sang ular menggeliat-geliat dan terkoyak-koyak tubuhnya

    Dzun Nun lalu membangunkan anak muda yang habis mabuk itu. Sesaat kemudian anak muda itu terjaga. Dzun Nun berkata, ‘Hai anak muda, lihatlah betapa besar kasih sayang Allah yang telah menyelamatkanmu. Lihatlah kalajengking yang diutus-Nya untuk membinasakan ular yang hendak membunuhmu!’

    Lalu Dzun nun melanjutkan nasihatnya, ‘Hai orang yang terlena, padahal Tuhan menjaga dari marabahaya yang merayap di kala gulita. Sungguh aneh, mata manusia mampu terlelap meninggalkan Tuhan Yang Kuasa, yang melimpahinya berbagai nikmat.’

    Setelah itu pemabuk itu berkata, ‘Duhai Tuhanku, betapa agung kasih sayangMu sekalian terhadap diriku yang durhaka kepadaMu. Jika demikian, bagaimana dengan kasih sayangMu kepada orang yang selalu taat kepadaMu?’ “

*****

Sahabat, membaca kisah di atas, saya jadi teringat pada beberapa kejadian yang pernah saya alami sendiri:

“Pagi itu, sepulang shalat ied saya bersama seorang akhwat berjalan menyusuri jalan pinggiran Telkom-gasibu. Sepanjang perjalanan kami asyik berbincang. Hingga tiba-tiba, ‘PLAKK…!’ kami dikejutkan oleh suara yang cukup keras. Spontan kami menoleh ke belakang, tempat asal suara tersebut. Ternyata tak jauh di belakang kami, satu pelepah pohon yang cukup besar jatuh, tepat di jalan yang baru saja kami lewati, hanya beberapa detik sebelumnya. Tapi Allah telah menyelamatkan kami dengan, menahan jatuhnya pelepah itu beberapa detik saja”

“Pernah suatu malam, sebelum beristirahat saya menyempatkan diri untuk memanaskan air dengan menggunakan ceret pemanas. Karena terlalu lelah saya tertidur. Cukup lama saya tidur, hingga akhirnya saya terbangun saat mendengar suara ribut dari luar. Gelap, listrik mati. Dalam suasana gelap, masih dengan setengah kesadaran saya menangkap cahaya merah, begitu kontras, tampak sangat menyala. Seketika kesadaran saya menjadi utuh, kaget luar biasa. Saya ingat sedang memanaskan air, dan cahaya itu adalah dari saklar pemanas yang terbakar. Meski dengan tubuh yang gemetar, secepatnya saya menuju asal cahaya dan mencabut kabel dari kontak listrik. Bau hangus begitu menyengat.

Ternyata air yang saya panaskan telah habis, ceret itu kering. Padahal saya ingat bahwa sebelumnya air yang saya panaskan memenuhi ukuran ceret. Tak lama kemudian listrik kembali menyala, dan suasana kembali sepi. Ternyata tadi sekering listriknya jatuh, dan suara ribut itu adalah suara anak-anak penghuni kamar sebelah. Saat itu pukul tiga dini hari. Kejadian itu membuat saya benar-benar tidak dapat lagi memejamkan mata. Saya sangat bersyukur Allah masih menyelamatkan saya, melalui suara ribut yang membuat saya terbangun, juga melalui sekering listrik yang jatuh.”

“Dulu saya memelihara beberapa ekor kucing di rumah. Saya memang pecinta kucing (meski semenjak kuliah saya tak pernah lagi memelihara kucing, dan tak pernah berani menyentuh bulunya, khawatir akan virus dan takut alergi). Kucing saya beranak pinak, menjadi keluarga utuh. Ada induk, anak, cucu, hingga ke cicit.

Suatu hari sepulang sekolah, saya melihat kucing-kucing saya sedang menikmati ikan, tak tanggung-tanggung, satu kilo ikan. Sebelum saya sempat bertanya, mama dengan penuh semangat, antara rasa syukur dan rasa takjub bercerita,

‘Tadi pagi mama lagi nyuci piring di belakang (waktu itu tempat cuci piring masih berada di belakang, di luar rumah), Tiba-tiba si emak (panggilan kucing yang paling senior, emaknya kucing-kucing di rumah) nyamperin. Husshh…hush…, sana jangan ganggu. Kata mama. Tapi gak tau kenapa si emak tetap saja duduk di sana. Hush.., jangan di sini, tar kesenggol…, mama sich terus ngusir, tapi dianya tetap gak mau pergi. Akhirnya ya udah, mama lanjutin lagi nyuci piring. Ech… gak lama kemudian, kok ada suara ribut-ribut yah..? Mama noleh, dan ternyata, Masya Allah!! Si emak lagi berantem ama seekor ular, tepat di belakang kaki mama saat itu. Gak lama kemudian ularnya mati. Sebagai hadiah, si emak dan kucing-kucing yang lain mendapatkan satu kilogram ikan segar’.

Kami yang mendengar cerita itu ternganga, merasa sangat terkejut, bersyukur, juga ngeri. Tak bisa membayangkan kalo si emak tak berada di sana. Tapi sekali lagi, ini pasti bukan sebuah kebetulan. Allah yang telah memberikan ilham pada kucing itu untuk tetap betahan di sana meski telah diusir berkali-kali. Subhanallah.”

“Kejadian lain, yang mungkin kelihatannya lebih sepele (tapi tidak bagi saya), adalah saat saya kuliah di program ekstensi Unpas. Waktu itu ada tugas yang harus dikumpulkan. Bagi saya, kuliah sambil kerja memang tak mudah untuk membagi konsentrasi. Rata-rata tugas saya kerjakan dalam keadaan sistem kebut dan kilat, serba dadakan, di kantor pada saat ada sedikit waktu luang dari pekerjaan-pekerjaan saya. Saya ingat untuk mata kuliah ini saya pernah beberapa kali bolos karena tuntutan profesi. ‘Hari ini gak boleh bolos lagi, di samping tugas memang harus hari ini juga dikumpulkan’ begitu pikir saya. Perkuliahan dimulai pukul lima sore.

Hingga hampir pukul enam saya masih berada di kantor, menyelesaikan tugas yang belum rampung. Beberapa saat kemudian tugas selesai. Tapi tiba-tiba atasan saya menyampaikan suatu masalah yang harus segera diselesaikan. Jujur saat itu yang saya pikirkan adalah secepatnya berangkat dan tiba di kampus, meski memang sangat terlambat.

Tak ada pilihan bagi saya selain memenuhi permintaan atasan dan tetap bertahan di kantor, entah sampai jam berapa. Saya berfikir, ‘kuliah beres jam setengah tujuh, sempat gak ya?’ saat itu saya masih merasa harus kuliah, meski mungkin hadir satu menit sebelum pelajaran berakhir, sekadar untuk absen dan mengumpulkan tugas. Tapi masalah yang harus diselesaikan terlalu ruwet, apalagi dengan suasana hati dan pikiran yang serba tak nyaman, kehilangan konsentrasi. Cukup lama saya hanya terpaku, hingga kemudian terdengar suara adzan Maghrib.

Saya segera berwudhu, meninggalkan komputer dengan segala PR-nya. Selepas shalat saya berdoa, antara rasa bingung dan sangat berharap akan pertolongan Allah. Tak lama setelah saya kembali ke depan komputer (masih dengan setengah hati), satu sms saya terima, ‘ibunya gak ada teh, lagi sakit. Absennya juga tar aja katanya, minggu depan aja sambil ngumpulin tugas’. Subhanallah, Alhamdulillah, saya merasa sangat bersyukur (bukan karena ibunya sakit lho :D), melainkan karena pertolongan yang Allah turunkan, dalam suatu kejadian yang seolah sebuah kebetulan.”

Masih begitu banyak kisah yang pernah terjadi, entah yang masih saya ingat, maupun yang saya sendiri telah lupa atau memang tidak menyadari. Terlalu panjang jika harus dituliskan di sini, sehingga cukuplah beberapa kejadian di atas sebagai contoh. Saya yakin, kita semua pasti pernah mengalami kejadian itu, saat di mana kita tiba-tiba menyadari bahwa Allah telah menurunkan pertolongannya dengan perantara yang tak terduga.

Sering kita tanpa sadar mengatakan ‘untung ada si ini, kalau gak gimana yah tadi nasib saya’ atau ‘ya Allah, gak kebayang kalau tadi saya ada masih di sana…’ dan sebagainya. Seolah keselamatan kita adalah karena peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Padahal kalau kita lihat lagi kisah pertama di atas, bagaimana Allah mengutus seekor katak untuk muncul ke darat, SENGAJA untuk menjemput seekor kalajengking di seberang sungai, kemudian mengantar kalajengking itu hingga ke tempat seorang pemabuk yang tertidur pulas. Bagaimana kemudian Allah memerintahkan kalajengking itu untuk tak berdiam diri di sana, melainkan segera menyerang ular, tepat beberapa saat sebelum mencelakai pemuda tersebut. Allah juga yang telah mengatur, sang kalajengking tiba di sana tepat pada waktunya. Allahu Akbar…..!

Nah sahabat, coba ingat-ingat lagi kejadian yang pernah terjadi. Rasakan betapa luar biasa cara Allah memberikan pertolongan, lalu ucapkanlah rasa syukur yang paling dalam kepadaNya.

Allah SWT berfirman yang artinya:

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Baqarah (2): 255 – Ayat Kursi)

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).“ (QS. Al An’am (6): 59)

Wallahu’alam bishawab.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/18175/pertolongan-allah-bukan-kebetulan/#ixzz1kobSWFwq

Jumat, 30 Desember 2011

“Buat Apa Berkerudung Kalau Kelakuan Rusak” Benarkah?

dakwatuna.com – Perempuan yang baik adalah yang bagus agamanya, yang dimaksud ‘agamanya’ adalah agama dalam hati bukan dalam penampilan. Pertanyaan, “Berarti lebih bagus perempuan tidak berkerudung tapi baik kelakuannya (beragama) daripada perempuan berkerudung yang tidak beragama (tidak baik kelakuannya)? Jawab: “Yang lebih bagus adalah perempuan yang berkerudung dan beragama sekaligus.”
Kenapa?
Realitas memperlihatkan kepada kita bahwa perempuan berkerudung lebih banyak yang beragama ketimbang perempuan yang tidak memakai kerudung.
Jika ada perempuan tak memakai kerudung tapi beragama (berakhlaq), maka itu adalah pengecualian dari perempuan-perempuan tak berkerudung yang rata-rata kurang berakhlaq.
Begitu pula jika ada perempuan berkerudung tapi tidak/kurang beragama, maka itu adalah pengecualian dari perempuan-perempuan berkerudung yang rata-rata beragama.
Kerudung adalah setengah petunjuk kalau wanita yang memakai kerudung tersebut adalah wanita beragama, setengahnya lagi adalah hati atau perilaku kesehariannya.
Bila perilaku keseharian seorang wanita muslimah sudah bagus namun belum berkerudung, segera lengkapi dengan kerudung, agar setengahnya terlengkapi dan menjadi sempurna. Begitu pula jika seorang wanita muslimah sudah berkerudung, namun akhlaq atau perilaku kesehariannya masih tidak baik, segera lengkapi dengan akhlaq yang baik, agar setengahnya terlengkapi dan menjadi sempurna.
Jadi, jangan ada lagi orang yang berkata “Buat apa berkerudung kalau kelakuan seperti wanita tak beragama (tidak baik), lebih baik tidak berkerudung!!”
Pernyataan itu keliru karena beberapa alasan:
Pertama: Alasan Syar’i
Pernyataan tersebut sama dengan menyeru perempuan untuk melanggar apa yang telah Allah perintahkan kepada wanita muslimah. Di dalam Al-Quran Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzaab: 59)
Kedua: Alasan Logis
Dikatakan sebelumnya bahwa wanita muslimah yang baik akhlaqnya namun tak berkerudung baru setengahnya menunjukkan kalau wanita tersebut beragama, karena setengahnya lagi adalah kerudung, berarti wanita yang tidak baik kelakuannya dan tidak berkerudung, tidak setengah pun menunjukkan bahwa wanita tersebut beragama. Maka, bukankah ini lebih parah nilainya di mata agama? Oleh karena itulah pernyataan di atas tidak menjadi solusi yang tepat.
Solusi yang Tepat
Bagi wanita muslimah yang sudah berkerudung dan merasa kalau akhlaq atau perilakunya masih jauh dari akhlaq seorang wanita muslimah yang sebenarnya, tidak perlu terhasut dengan pernyataan “Buat apa pakai kerudung, kalau…. dst” lantas melepas kerudungnya karena malu.
Solusi yang bijak adalah, biarkan kerudung itu tetap melekat bersamanya sembari berusaha untuk terus mengadakan perbaikan akhlaq atau perilakunya.
Pernyataan Lain
Kerudungi hati dulu, baru kerudungi penampilan”. Jika pernyataan ini memang pernah terlontar dan pernah ada, alangkah bijak jika pernyataan ini kita ubah menjadi: “Mengerudungi hati tak kalah penting dari mengerudungi penampilan”.
Tentang pernyataan pertama, dikarenakan perbaikan akhlaq adalah proses berkesinambungan seumur hidup yang jelas bukan instan, dan dikarenakan tak ada yang dapat menjamin bagaimana dan seperti apa hari esok dalam kehidupan kita? Masih di atas bumi kah atau di dalam perutnya? Masih memijak kah atau dipijak? Maka menunda berkerudung dengan alasan memperbaiki akhlaq dulu adalah sesuatu yang tidak semestinya dilakukan oleh wanita muslimah mana pun.
Adapun pernyataan kedua, memang demikianlah adanya, bacalah Al-Quran dan tadabburi maknanya, maka kita temukan bahwa hampir setiap kali Allah berfirman tentang wanita muslimah yang baik (beragama), isinya adalah tentang “Bagaimana seharusnya wanita muslimah itu berperilaku?” selebihnya adalah tentang “Bagaimana seharusnya wanita muslimah itu berpenampilan?”. Jika berkenan bacalah QS. An-Nur ayat 31, At-Tahrim ayat 5, 10, 11 dan 12, dan seterusnya.
Pernyataan berikutnya adalah:
“Kerudung itu bukan inti dari Islam!” Ya, saya pribadi setuju, memang bukan inti dari Islam, tapi bagian penting dari Islam yang jika bagian itu tidak ada, maka terlalu sulit untuk dikatakan “Ini Islam” sama sulitnya untuk dikatakan “Ini bukan Islam”.
Dikatakan wanita muslimah sulit karena tidak pernah mau pakai kerudung, dikatakan bukan wanita muslimah juga sulit, karena shalat, zakat dan ibadah-ibadah lainnya tetap dikerjakan, juga akhlaqnya adalah akhlaq wanita muslimah.
Kalau saya ibaratkan, hal ini seperti bangunan rumah yang tak nampak seperti rumah, namun lebih tampak seperti gudang; berjendela tanpa kaca, tanpa lantai ubin, dan tanpa atap dan seterusnya.
Dikatakan rumah sulit, karena dari luar hampir tak dapat dibedakan dengan gudang. Dikatakan bukan rumah juga sulit, karena ternyata penghuninya lengkap, pasangan suami istri dan satu anak lelaki.
Jendela berkaca, pintu, atap, dan lantai ubin memang bukan bagian inti dari rumah, tapi tanpa adanya semua itu, sebuah bangunan akan kehilangan identitasnya sebagai rumah, konsekuensinya, orang-orang akan menyangka kalau bangunan tersebut adalah gudang tak berpenghuni.
Kerudung atau jilbab adalah identitas seorang muslimah (wanita beragama Islam). Kerudung lah yang memberi isyarat kepada lelaki-lelaki muslim bahkan semua lelaki bahwa yang mengenakannya adalah wanita terhormat, sehingga sangat tidak pantas direndahkan dalam pandangan mereka, kata-kata mereka, maupun perbuatan mereka (para lelaki).
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzaab: 59)
Kesimpulan
Identitas seorang wanita muslimah itu adalah jilbab dan akhlaqnya, akhlaq tanpa jilbab kurang, sama kurangnya dengan jilbab tanpa akhlaq”.

Kamis, 29 Desember 2011

Wali – Doaku Untukmu Sayang

Wali – Doaku Untukmu Sayang

Kau mau aku apa, pasti kan ku beri
Kau minta apa, akan ku turuti
Walau harus aku terlelap dan letih
Ini demi kamu sayang
Reff :
Aku tak akan berhenti
Menemani dan menyayangimu
Hingga matahari tak terbit lagi
Bahkan bila aku mati
Ku kan berdoa pada Ilahi
Tuk satukan kami di surga nanti
Tahukah kamu apa yang ku pinta
Disetiap doa sepanjang hariku
Tuhan tolong aku, tolong jaga dia
Tuhan aku sayang dia
Back to Reff
(Tuhan tolong aku, juga jaga dia
Tuhan ku pun sayang dia)
Back to Reff

Koleksi Wali Band yang lain.
Mp3 Download & Lirik Lagu Wali – Doaku Untukmu Sayang

Rabu, 28 Desember 2011

ALQURAN untuk apa diturunkan ?

Sering kita jumpai alquran hanya sebagai hiasan rumah
dipampang diruang tertentu dalam ukuran yang menakjupkan
membuat setiap orang yang melihat bergumam, woow … bagus sekali, woow indah sekali…, woow pasti mahal ya…, kita jumpai alquran hanya sebagai hiasan rumah. dosakan ini ? waullah hu alam. hanya Allah yang tahu. tergantung bagaimana niat kita saat memajang ayat ayat suci Alquran tersebut. akan lebih baik bila niat kita memajang ayat ayat suci tersebut untuk menunjukkan bahwa saya adalah Islam, saya menjalankan apa yang dimaksud dalam ayat ayat tersebut, atau mungkin kita berniat untuk diingatkan dengan melihat tulisan tersebut, setiap kali kita melihatnya, kita membacanya, kita ingat makna yang terkandung dalam ayat ayat tersebut. dan kita hidup dengan tuntunan ayat yang terkandung dalam tulisan tersebut dan kita dapat terhindah dari dosa dan maksiat.

Benarkah alquran dapat digunakan untuk mengusir setan
ada yang menyimpan alquran dalam rumah, disimpan dalam susunan yang paling atas, ditaruk ditempat yang istimewa…atau alquran hanya digunakan untuk memenuhi tempat penyimpanan buku belaka, sebagai koleksi.

Padahal dipegang aja gak pernah,
apalagi dibuka,
dan mustahil untuk pernah dibaca,

Karena diniatkan menyimpan alquran hanya untuk mengusir setan
karena memiliki keyakinan dengan menaruh alquran didalam rumah, setan tidak bakakan masuk ke dalam rumah kita. atau mungkin untuk menarik rezki kedalam rumah kita, emang fengsui, harus ditempel diatas pintu…
padahal itu tidak mungkin, apakah gudang tempat penyimpanan alquran jika ditaruh 1 ons emas tidak akan hilang emasnya?…..
berapa banyak alquran ditumpuk dirumah, setan akan tetap hadir. setan akan tetap kelayapan didalam rumah kita. setan tidak takut dengan fisik alquran, setan tidak takut dengan tulisan alquran. setan hanya takut pada orang yang beriman, orang yang senantiasa ingat pada Allah, orang yang selalu dalam lindungan Allah dan membaca ayat ayat suci alquran. rizki akan hadir pada setiap umat yang rajin dan tekun bekerja, dekat dengan Allah.
Al quran dibaca untuk meminta rejeki. dibaca ditempat tempat keramat, dikuburan. apa apaan pula itu, menjadikan syirik pada alquran. menjadikan syirik dikuburan. menduakan Allah itu syirik besar. kita sepatutnya meminta segala sesuatu hanya kepada Allah, kita hanya memohon pada Allah, berdoa pada Allah, tidak pada yang lain. kita baca surat waqiah seribu kalipun sampe dower kita tidak akan kaya, kalo tujuannya hanya untuk keperluan dunia semata. padahal isi surat wakiah mengenai hari kiamat, hisab, surga dan neraka.

Sebenarnya apa sih isi dan kandungan dalam ayat ayat suci alquran, jangan sampai kita salah kaprah dalam menggunakan isi dari ayat ayat suci alquran
Secara garis besar kandungan dalam Alquran adalah tuntunan bagaimana kita harus bersikap dalam menjalani hidup ini, supaya kita berada dalam jalur yang benar, jalur yang lurus, jalan yang diridloi oleh Allah swt. kandungan tersebut diantaranya adalah mengenai kepribadian kita, etika bermasyarakat, hak hak kita, hukum, berdagang, harta warisan atau rampasan perang, cerita bangsa bangsa terdahulu, mengenai ibadah (sholat, zakat, haji dll.), jihat, makanan dan minuman, pakaian dan perhiasan, mengenai alam dan tanda tanda kekuasaan Allah, gambaran surga dan neraka. tentang nabi nabi terdahulu.
jadi secara umum alquran sebagai mukjizat nabi muhammad saw, diturunkan tidak dengan kekuatan dasyat dan tidak pula untuk kesaktian. tetapi diturunkan dengan cinta damai untuk menyelamatkan kita, seluruh umat manusia, untuk membimbing kita menempuh jalan yang benar, jalan yang mengantarkan kita kembali ke jalan allah. dan untuk menyempurnakan ajaran ajaran sebelumnya.
adakah dalam alquran menjelaskan bagaimana mengusir setan?, adakah dalam alquran perintah ” bacalah ayat ini kelak kita akan kaya ( dapat uang ) ?. bacalah ayat itu kelak kita akan memiliki kekuatan seperti raksasa. tidak.

Semua kekuatan berasal dari Allah
semua rizki berasal dari Allah
setiap kejadian tidak luput dari ijin Allah
yang tepat untuk mencapai segala sesuatu adalah dengan mendekatkan diri pada Allah. dengan makrifatullah. bila kita dekat dengan Allah, bila kita selalu bersama Allah, insya Allah segala yang kita inginkan akan diijabah oleh Allah, setiap doa kita insya allah akan dikabulkan. yang lebih tepat lagi dengan membaca ayat ayat suci alquran dengan niat kita berdoa pada Allah, memohon bantuan pada allah. menyerahkan segala daya upaya pada Allah. dan segala sesuatu yang akan terjadi atas ijin Allah
Jadi Alquran diturunkan bukan untuk mengusir setan, tetapi untuk menjauhkan diri kita dari godaan setan. Al quran diturunkan bukan untuk membuat kita kaya mendadak, tetapi menuntun kita bagaimana mendapatkan rizki yang barokah. Al quran diturunkan untuk menyempurnakan kitab kitab sebelumnya. Al quran diturunkan untuk memberikan peringatan bagi kita, bagaimana keadaan hari akhir dan memperingatkan kita siapa yang kelak akan beruntung dan siapa yang kelak akan merugi. Al quran diturunkan untuk membimbing kita bagaimana menempuh jalan yang lurus, jalan yang diridloi Allah swt.

Selasa, 27 Desember 2011

Neraka... Zaman Sekarang...

Diriwayatkan dalam ajaran kita, bahwa kehidupan setelah mati adalah alam akhirat. dalam alam akhirat dibagi menjadi dua, neraka dan surga. kita pasti akan menghuni salah satu diantaranya, gak ada pilihan ditengah tengah atau tidak memilih sama sekali, emang kita bisa hidup abadi di dunia ini? berapapun usia kita, bagaimanapun usaha kita, kita pasti akan mati.
seperti ajaran yang sering di berikan kepada kita, segala tindakan kejahatan, maksiat, pasti akan mengakibatkan dosa, dan semua orang berdosa pasti akan merasakan bagaimana mengintip neraka. dari semua cerita tentang neraka, benarkah neraka adalah sebuah tempat yang sangat menyeramkan ?.

Namun sebaliknya, setiap perbuatan yang mengandung kebaikan akan dibalas dengan posisi yang menyenangkan, disurga. tak perlu dipungkiri tentang cerita bagaimana rasanya hidup disurga, pasti akan lebih nikmat dari hidup didunia, pasti akan diceritakan yang enak enak. kehidupan yang kekal dan abadi. diriwayatkan seperti taman firdaus, mengalir sungai sungai dengan air susu dibawahnya, ditemani bidadari bidadari cantik yang selalu virgin, apa saja kebutuhan yang kita perlukan tinggal ambil, gak perlu bayar atau ngutang dengan kartu kredit. yang pasti amat sangat istimewa.

Tapi bagaimana pemahaman kebanyakan orang tentang neraka. menurut apa yang saya perhatikan saat ini, gejala yang timbul di masyarakat yang terpelajar, neraka adalah sebuah tempat yang menyenangkan, terfavorit. bagaimana tidak? semua bintang cantik nan seksi dari holywood adalah penghuninya, semua dukun kepercayaan kita ada didalamnya, para pengedar dan bandar pada ngumpul, rentenir, koruptor udah teken kontrak untuk singgah dineraka, para kafirin dan kafirun, dan masih banyak lagi.
kita sebagai masyarakat yang berpendidikan tinggi, atau minimal lulusan luar negeri, mengandalkan kemampuan logika yang kita miliki, menganalogikan gambaran neraka seperti asumsi mereka. “menurut logika manusia” itu yang salah. padalah kita yang hidup dunia tidak ada seorangpun yang pernah melihat bagaimana keadaan didalam neraka, atau membayangkan bagaimana kehidupan neraka yang sebenarnya. bagaimana rasanya neraka jahanam, neraka saqor atau neraka yang paling tinggi sekalipun. neraka hanya sebatas nama, sepertinya hanya terdengar seperti angin lalu. tidak ada gregetnya setiap kali kita mendengar kata neraka.

Beda sekali kalo kita jalan lewat tempat yang angker, mulut kita komat kamit, atau kalo kita mau lewat kuburan – dari jauh kita udah baca doa panjang banget karena takutnya. badan bergetar dan bulu kuduk berdiri, atau pas bos kita marah aja kita udah kalang kabut, sepertinya ungkapan diatas lebih seram dari neraka.

Neraka bukan lagi sebagai tempat yang menakutkan, sebagai tempat yang sangat dikeramatkan, nama yang amat sangat ditakuti, tempat yang harus dihindari. bahkan banyak anak jaman sekarang berebut tempat untuk absen dineraka. kita contohkan bagaimana mudahnya kita menemukan miras di toko hpermarket, bagaimana kita dapat dengan mudah menemukan iklan para kupu kupu malam di internet atau koran, bagaimana mudahnya ditemui para orang pintar mengiklankan jasa mereka. koruptor, penipuan, pembunuhan meningkat tajam. bahkan informasi yang paling laku sekarang adalah eksploitasi tempat maksiat, tempat dugem, berita tentang jakarta underground, adalah segala hal yang menyesatkan sekarang semakin tampak dipermukaan, tidak malu malu, justru semakin terus terang, inikah yang dinamakan globalisasi, modernisasi, padahal jalan itu jalan pintas menuju neraka

Walaupun sudah diperingatkan banyak ulama, “…kalian nanti pasti akan masuk neraka”. tapi apa kata mereka? jawabnya pasti “gak pa pa, yang penting sekarang enak dulu, yang penting sekarang senang senang dulu”, . apalagi menurut kebudayaan kita mumpung masih muda kita puas puasin, mengumbar hawa nafsu jelek kita, ntar kalo dah nikah kita gak bakalan bisa gini lagi, ntar kalo dah tua udah gak kuat lagi. tentunya mereka tidak memikirkan bagaimana bila allah akan memanggil kita lebih cepat, sebelum menikah,,, sebelum tua, ,,sebelum kita menikmati hasilnya,,, sebelum kita bertaubat.
tiga hal yang tidak kita ketahui dan tidak dapat diperhitungkan adalah kelahiran, rejeki dan kematian.
baru baru ini ada kejadian yang nauzdubillah.. ditemukan sepasang insan telah meninggal dalam mobil dan baru ditemukan setelah 4 hari diarea parkir di kawasan wisata ancol. siapa yang akan mengira dipanggil allah dalam keadaan sedang maksiat?. Allah memiliki berjuta cara untuk memanggil kita. dalam sakit atau sehat, senang atau sedih, kaya atau miskin, dtempat yang aman sekalipun.
Wallahualam bi shawab

Facebook

Facebook