Minggu, 18 Maret 2012

Alam Semesta

Gambar Perbandingan Planet - Planet di Galaksi


 Jupiter, Saturn, Uranus, Neptune, Earth, Venus, Mars, Mercury, the Moon..

Sun (Sol), Jupiter, Saturn, Uranus, Neptune, Earth, Venus, Mars, Mercury... 

Subhanallah... Allahu Akbar... Maha Besar Allah.... ternyata Bumi tempat kita tinggal sangat kecil sekali.. dibandingkan dengan Planet Jupiter dan Matahari.......

Sumber : http://www.saintjoe.edu/~dept14/environment/rogero/core5/celestial_compare.html

Senin, 13 Februari 2012

Hidup Untuk Ibadah

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴿٥٦﴾
dakwatuna.com – Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz Dzariyaat: 56)
Saudaraku,
Hadirnya kita di dunia ini adalah untuk menyembah Allah SWT. Betapa lemahnya kita sebagai seorang hamba. Jantung, paru-paru, hati, peredaran darah, usus, lambung dan segala organ dalam tubuh kita sendiri kita tak punya kuasa untuk mengaturnya. Semuanya bekerja berdasarkan perintah dari yang menciptakannya. Betapa bergantungnya kita kepada Allah SWT, dan sepantasnyalah kita tiada pernah sombong walau sedetikpun. Umur kita sampai saat ini juga merupakan kemurahan pemberian Allah SWT
Saudaraku,
Kenapa belum juga tergerak hati kita untuk kembali kepada Allah. Memantapkan azzam kita menjadi hamba pengabdi, yang selalu memberikan amal terbaik kepada sang pencipta. Semua energy yang kita miliki, hendaknya dipergunakan sebanyak-banyaknya untuk kemaslahatan perjalanan kita menuju ridha-Nya. Ketahuilah, perjalanan kita tak selamanya mulus. Selalu ada riak-riak yang menyebabkan perjalanan tersendat. Maka siapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk hilangkan kepenatan dan kelelahan. Seorang hamba tiada pernah beristirahat mempersiapkan bekalnya, sebelum perjalanan yang panjang harus berakhir. Sungguh merugi mereka yang mengisi hari tanpa beramal. Melewati hari tanpa ibadah. Bukankah perjalanan kita pasti akan berakhir? Maka bagaimana mungkin dalam perjalanan selanjutnya kita tak mempersiapkan bekal?
Ingat sahabat, kita bukan hewan dan tumbuhan, yang kehadirannya hanya di dunia ini saja. Maka wajar kalau kerjaan mereka hanya makan, tidur dan kawin. Mereka tidak mempertanggungjawabkan apa yang mereka lakukan di dunia ini. Sementara kita diberikan akal pikiran untuk mencapai kesempurnaan pengabdian. Betapa banyak kita temui mereka yang menjalani aktivitas kehidupan tak ubahnya aktivitas yang dilakukan binatang. Makan, minum, kawin. Roda kehidupannya senantiasa berputar di kisaran aktivitas itu. Tanpa aktivitas lain. Tanpa ibadah, tanpa amal, tanpa baca Qur’an, tanpa shalat, tanpa amal sosial dan tanpa aktivitas mengabdikan diri pada Tuhannya.
Sungguh menyedihkan, hidup yang singkat ini diisi dengan tidur-tiduran. Diisi dengan aktivitas keduniaan tanpa menyisakan sedikit pun aktivitas menjemput pundi amal untuk dibawa ke negeri akhirat. Bukankah akhirat itu kekal, tiada berakhir? Surga terlalu sayang dilewatkan dengan mengisi hidup tanpa amal. Maka selagi nafas masih di kerongkongan, mari beramal dengan penuh kesungguhan. Ada begitu banyak peluang amal yang Allah sediakan setiap harinya, yang sayang sekali untuk dilewatkan. Jangan jadi orang yang miskin di akhirat nanti karena ketiadaan bekal amal yang dibawa. Jangan sampai kita jadi orang yang menderita di dunia dan terlempar ke neraka.
Jadilah pribadi bahagia di dunia, sentosa di surga. Lenyapkan segera riak-riak kemalasan. Lempar jauh-jauh kelalaian. Mari genggam surga dengan cinta pada sang Pencipta. Rengkuh keridhaanNya dengan amal terbaik yang mampu kita persembahkan. Setiap perputaran waktu adalah masa dimana memutarkan amal-amal terbaik yang sanggup kita kerjakan .Sudah saatnya kita kembali ke jalur penciptaan yang sesungguhnya. Cukuplah dosa yang kita lakukan di masa lalu, sebagai kenangan kekonyolan kita sebagai seorang hamba. Kita perbaiki dan tutupi lubang-lubang aibnya dengan amal terbaik kita. Mari bersama buat sejarah kehidupan yang dipenuhi dengan amal unggulan. Sejarah kehidupan yang dipenuhi dengan amal kebaikan kepada siapa pun. Setiap kita pasti ditanya tentang apa yang kita dilakukan di dunia. Maka selagi ada waktu dan nafas masih di tenggorokan tak ada waktu terlambat untuk kembali berlayar, mengudara, menempuh perjalanan untuk menjemput pundi-pundi pahala yang Allah sediakan. Setiap kita istimewa, maka jadilah pribadi istimewa di hadapan manusia, terlebih di hadapan sang Pencipta.

Minggu, 05 Februari 2012

Wanita Idaman Ikhwan

dakwatuna.com - Ikhwan akhwat yang sedang mencari pendamping hidup bacalah uraian berikut… Malu bertanya sesat di jalan…
Ikhwan, jika kalimat ikhwan dicerna dari segi bahasa Arab maka akan berarti lelaki, namun Negara kita Indonesia merupakan Negara yang mempunyai bahasa resmi yaitu bahasa Indonesia, olehnya itu jika masyarakat mendengar kata ikhwan itu berarti sangat erat kaitannya dengan agama Islam, dengan demikian, pengertian ikhwan adalah lelaki yang senantiasa taat menjalankan Agama Allah, syariat Islam, dan melaksanakan perintah Allah serta menjauhi laranganNYA.
Ikhwan yang bersifat insani tentunya mengidam-idamkan wanita, yang bakal memperkokoh keimanan kepada Allah SWT, seiring berkembangnya roda era globalisasi maka tentunya untuk menemukan wanita yang benar-benar shalihah mungkin sudah sangat sulit atau jarang.
Ya, wanita shalihah, sebab telah ma’ruf bahwa sungguh mulia wanita yang shalihah. Di dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan generasi dambaan umat. Para ikhwan yang cerdas bakal memikirkan masa depan bukan dari segi dzahir saja namun akan berpikir juga masa depan dunia dan akhirat dengan memilih wanita shalihah maka akan melahirkan anak shalih yang akan berbakti, mendoakan orang tua jika sudah berpindah ke pangkuan ilahi. Nah, sekrang timbul pertanyaan, seperti apakah wanita shalihah itu…?
Pengertian Wanita Shalihah
Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim). Wanita shalihah adalah wanita yang bertaqwa, yaitu yang taat pada Allah dan Rasul-Nya. Wanita yang bertaqwa adalah selalu melaksanakan segala perintah Allah dan Rasul-Nya dan menjauh diri dari segala hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Jadi shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah, baik sebagai seorang anak, seorang istri, anggota masyarakat, dll.
Jika wanita shalihah ada di belakang para lelaki mukmin di dunia ini, maka kita akan melihat kebangkitan dunia Islam untuk mampu memimpin dunia, seperti baginda Rasul di belakang beliau terdapat wanita shalihah ummul mukminin Khadijah Radhiyallahu anha.
Wanita adalah tiang Negara. Bayangkanlah, jika tiang penopang bangunan itu rapuh, maka sudah pasti bangunannya akan roboh dan rata dengan tanah. Tidak akan ada lagi yang tersisa kecuali puing-puing yang nilainya tidak seberapa.
Wanita shalihah akan selalu berusaha melaksanakan syariat Islam dengan sepenuh kekuatan imannya. Dia akan mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilalloh) dengan memperbanyak ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah, menghiasi dirinya dengan akhlaqul karimah, bergaul dengan sesama manusia dengan muamalah yang sesuai syariat Islam, serta selalu memelihara diri agar tidak berbuat maksiat (perbuatan yang dilarang Allah dan Rasul-Nya).
Kriteria Wanita Shalihah
Wanita shalihah menjaga kecantikan dirinya agar tidak menjadi fitnah bagi orang lain. Ia mampu memelihara rasa malu sehingga segala tutur kata dan tindak tanduknya selalu terkontrol. Wanita shalihah terlihat dari perbuatannya selalu berusaha sesuai dengan syariat Islam, yaitu sesuai Al Qur’an dan hadits nabi. Al-Quran surat An-Nur: 30-31, Allah SWT memberikan gambaran wanita shalihah sebagai wanita yang senantiasa mampu menjaga pandangannya dan menutup auratnya.
“… Maka wanita shalihah ialah yang taat kepada Allah serta memelihara diri ketika suaminya tidak ada. Oleh karena Allah telah memelihara (mereka) …” (QS. An-Nisa’: 34)
Wanita shalihah akan terus berusaha menjaga kehormatan diri dan keluarga serta memelihara farji-nya,
Wanita shalihah adalah wanita yang mampu memelihara rasa malu, malu kepada Allah jika melanggar  aturan-aturan Allah dalam Al-Qur’an terutama saat ini seakan akan manusia selalu mengejar model pakaian tanpa menghiraukan apakah modelnya sudah sesuai dengan syariat Islam atau tidak. Wahai saudari-saudariku yang cantik, yang manis, malulah kepada Allah dan jangan mempermalukan dirimu sendiri atau menzhalimi diri sendiri, jika sudah paham bahwa menutup aurat, taat kepada suami, orang tua  maka jangan pernah merasa malu untuk melaksanakannya sebab itu jalan menuju syurga Allah SWT.
Banyak wanita bisa menjadi sukses, tetapi tidak semua bisa menjadi shalihah, bahkan wanita bisa menjadi fitnah terbesar bagi kaum laki-laki, yang membuat laki-laki semakin menjauh dari Allah dan menyeret mereka ke jurang neraka jahannam, na’u dzubillahi min dzaaliik. Begitu pula dengan sebaliknya banyak lelaki yang bisa sukses tetapi tidak semua bisa menjadi lelaki shalih.
Sekarang para ikhwan, jika ingin memilih wanita untuk dijadikan sebagai pasangan hidup makan pilihlah sesuai dengan wasiat Rasulullah dalam sabdanya:
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berwasiat untuk memilih wanita yang memiliki dien (agama) yang baik sebagai ukuran keshalihan seorang wanita. Bukan kecantikan, kedudukan, atau hartanya.
Wahai para Ikhwan ataupun akhwat ketahuilah bahwa wanita yang menjadi idaman seorang ikhwan adalah, wanita yang berkriteria seperti berikut:
Dari Abu Hurairah Rhodiyalloohu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan karena dien (agama)-nya. Maka pilihlah yang memiliki dien (Agama) maka engkau akan beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Nah… bagi ikhwan yang sedang dalam pencarian pasangan hidup tidak usah bimbang, bingung, mau jadi orang yang beruntung…? Pilihlah seperti yang diwasiatkan Rasulullah di atas, insya Allah itulah yang terbaik.
Dan bagi Akhwat yang disayangi oleh Allah mau jadi wanita pilihan para Ikhwan maka peliharalah, hiasilah kehidupanmu dengan Syariat Islam senantiasalah Istiqamah menjalankan Agama Allah jangan risau soal jodoh sebab semuanya sudah ditentukan oleh Sang Maha Pencipta, dan jangan terbawa arus model-model kehidupan yang tidak termaktub dalam syariat.
Ketahuilah bahwa Ikhwan sangat menyukai wanita shalihah, bersifat penyayang, perhatian, lemah lembut, cantik, tidak pemarah, dan tentunya memakai jilbab yang syar’i.
Sungguh mulia wanita yang shalihah. Di dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan generasi dambaan umat.
Sebelum penulis mengakhiri goresan ini sebuah tetesan tinta dari Negeri Seribu Benteng Maroko, mohon maaf jika terdapat kesalahan. Tak ada niat lain melainkan hanya untuk saling mengingatkan, semoga bermamfaat. Wallahu A’lamu Bishowab.

Rabu, 01 Februari 2012

Wanita Tangguh Mencari Cinta

dakwatuna.com - Teringat akan kisah seorang kawan menemukan jodohnya, cukup membuat diri ini semakin yakin akan ketetapanNya tanpa melanggar atau mencari celah pembenaran untuk melakukan hal-hal yang di langgar Allah.
Kisah ini berawal dari tahun lalu, di mana masa perjuangan seorang kawan itu menemukan si pemilik tulang rusuknya. Sebut saja namanya Zahra, dia belum pernah yang namanya berpacaran sekalipun. Subhanallah, sungguh keadaan yang sangat jarang terjadi sekali terjadi di zaman ini. Tetap teguh dalam rasa yang hanya di niatkan untuk Rabbnya. Menginjak usia dua puluh empat tahun, naluri ingin di cintai oleh lawan jenis pun muncul. Tapi ia hanya ingin menggapainya melalui jalur yang halal bukan pacaran. Zahra ingin menikah.
Suatu saat, ia memiliki suatu rasa (bisa di bilang cinta) kepada kawan sekolahnya semasa di kampung. Meskipun kini tinggal di pulau yang berbeda namun rasa itu kian hari kian tumbuh. Sebuah rasa yang di sebabkan oleh keshalihan si pria idaman tersebut (karena kebetulan Zahra mengenal keluarga kawannya itu dan keshalihan keluarganya) bukan karena fisik atau kekayaannya. Tapi Zahra bukanlah seorang perempuan “lebay” yang menggembor-gemborkan perasaannya langsung kepada pria itu. Rasa itu, ia tahan sedemikian rupa hingga hanya ia dan Allah saja yang tahu rasa itu. Hingga kemudian Zahra berusaha mencari solusi dengar meminta nasihat seorang kakaknya.
Kakaknya memberi nasihat, supaya bisa menahan segala rasa yang ia simpan. Kakaknya bersedia menjadi perantara Zahra kepada si pria itu. Namun dengan syarat, agar Zahra bisa meningkatkan ibadahnya. Memperbanyak membaca Al Qur’an, puasa sunnah dan sebagainya. Hal itu bertujuan untuk lebih meluruskan niatnya untuk menikah hanya karena Allah, untuk menjaga hatinya. Bukan berdasarkan hawa nafsu semata.
Beberapa waktu kemudian, ternyata terdengar kabar bahwa pria yang di cintai Zahra akan segera menikah dengan wanita pilihannya. Subhanallah, mendengar kabar itu Zahra tak lantas kecewa. Meskipun ada sebersit rasa sedih tapi ia bisa mengendalikan perasaannya hingga tak berubah menjadi patah hati yang berlebihan.
Usahanya tak putus sampai di situ, ia pun membuat proposal nikah yang ia berikan kepada guru ngajinya dan kepada kerabatnya yang memiliki pemahaman ilmu yang baik. Ia memang sangat berniat menikah untuk menjaga kehormatannya dan bisa melindungi dirinya dari segala macam fitnah.
Hebatnya, mengalami satu kegagalan tak membuatnya putus asa atau bermurung diri. Karena ia memang berniat menikah karena Allah, bukan karena siapa-siapa. Yang terpenting baginya adalah keshalihan.
Dalam bilangan minggu, ternyata Zahra mendapat kabar dari guru ngajinya bahwa ada seorang pria yang siap menikah. Mereka pun saling bertukar biodata proposal. Kedua pihak pun setuju untuk melakukan pertemuan. Dengan di dampingi oleh guru ngajinya masing-masing maka pertemuan di lakukan. Pertemuan pertama berjalan lancar dan untuk pertemuan selanjutnya masing-masing pihak akan mempertimbangkannya kembali.
Setelah beberapa lama di tunggu, ternyata belum ada kabar dari pria itu apakah proses ta’aruf di lanjutkan atau tidak. Maka Zahra pun menghubunginya perihal kelanjutan ta’aruf di antara mereka. Jawabannya yang di terima Zahra adalah bahwa pria itu belum mengkomunikasikan tentang rencana pernikahannya kepada orang tuanya. Orangtua pria itu adalah tipikal orang yang merasa aneh jika pernikahan tidak di awali dengan berpacaran. Zahra terkejut dengan jawaban pria itu. Kenapa sebelum melakukan ta’aruf tidak dulu di bicarakan dengan orang tuanya sehingga sewaktu-waktu ia sudah siap untuk menikah maka orang tuanya bisa menerima. Karena si pria itu tidak memberikan waktu yang pasti mengenai kelanjutan ta’aruf mereka, maka Zahra memutuskan untuk mengakhiri ta’aruf mereka. Hal itu di pilih Zahra untuk menghindari hal-hal yang bisa menjerumuskan mereka ke dalam jurang maksiat di karenakan tidak adanya kepastian waktu.
Dua kali Zahra mengalami kegagalan. Tapi ia tak putus asa. Untuk ikhtiarnya yang ketiganya pun Zahra masih gagal meneruskan proses ta’aruf ke jenjang pernikahan karena sesuatu sebab.
Masih pantang menyerah, Zahra melanjutkan usahanya yang ke empat kali. Kali ini Zahra di beri informasi oleh seorang ustadzah di kampung halamannya di kota X, bahwa ada seorang pria yang siap menikah dan sedang mencari calon istri yang sama kampung halamannya yaitu kota X juga tetapi berdomisili di Jakarta. Mendengar informasi itu Zahra langsung memberikan proposal nikahnya kepada ustadzah tersebut. Selang beberapa hari, terjadilah pertemuan antara kedua pihak di dampingi perantara.
Pada pertemuan pertama lebih di tekankan pada pengenalan pribadi yang merupakan penjabaran dari isi proposal, masing-masing pihak bertanya mengenai hal-hal yang kurang di pahami dan bagaimana pandangan tentang rumah tangga dan seluk beluknya. Pertemuan pertama bisa di bilang penentuan, maksudnya jika ada hal-hal yang tidak di pahami mengenai calon atau ada pertanyaan yang mengganjal, bisa langsung di tanyakan. Karena jawaban dari pertanyaan yang di ajukan pada saat itu juga dapat memperlihatkan ekspresi kejujuran tanpa di buat-buat juga dapat di nilai mengenai sifat asli melalui jawaban yang di lontarkan. Jika ada kecocokan masa dibilang di jadwalkan untuk pertemuan berikutnya yaitu pertemuan antara dua keluarga.
Merasa ada kecocokan antara Zahra dan calonnya. Maka pertemuan kedua langsung berbicara mengenai pernikahan. Bagaimana teknis dan hal lainnya. Awalnya pernikahan akan di laksanakan dua bulan setelahnya, namun khawatir kurang bisa menjaga hati maka dengan berbagai pertimbangan pernikahan di majukan menjadi sebulan dari di laksanakannya pertemuan pertama.
Akhirnya pencarian Zahra akan jodohnya berakhir. Zahra dan calonnya menikah di kediaman Zahra di kota X, dengan acara yang sangat sederhana. Hanya selang sebulan dari masa ta’aruf mereka.
*****
Itulah cerita yang saya ambil berdasarkan kisah nyata dari kawan baik saya. Betapa gigihnya dia menjemput jodohnya. Karena niat dia baik, maka siapa pun prianya yang penting shalih maka ia akan terima. Niatnya tulus karena Allah.
Allah telah memberikan imbalan atas kegigihan Zahra dan kesabarannya dalam mencari pendamping hidup. Allah memberinya seorang suami yang shalih yang mampu memimpin dirinya menuju keridhaan Allah. Kini usia pernikahan mereka memasuki bulan ketiga. Dan singkatnya perkenalan mereka, tak membuat mereka mempermasalahkan perbedaan yang ada. Justru pasca pernikahan, mereka gunakan untuk penjajakan guna pengenalan pribadi masing-masing secara mendalam.
Maha Suci Allah yang telah mempertemukan hambaNya dalam ikatan yang suci. Zahra dan suaminya tak membutuhkan proses yang lama untuk perkenalan pra nikah. Karena jika niat sudah lurus karena Allah saja, maka tak ada celah untuk mencari-cari alasan untuk berkata tidak apalagi melakukan hubungan yang sudah jelas haram (baca: pacaran). Cukup Allah saja yang menjadi alasan.
Mungkin cerita saya di atas hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang jarang terekspos. Ketika niat hanya kepada Allah sudah bulat, maka tak ada yang bisa menghalangi. Dan Allah pun langsung mengganjar kesabaran dengan sesuatu yang indah. Indah pada waktunya.

Selasa, 31 Januari 2012

Kezuhudan Gubernur Itu Membuat Umar Menangis

Said bin Umar al Jumahi, termasuk seorang pemuda di antara ribuan orang yang pergi ke Tan’im, di luar kota Makkah. Mereka berbondong-bondong ke sana, dikerahkan para pemimpin Quraisy untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati terhadap Khubaib bin Adi, yaitu seorang sahabat Nabi yang mereka hukum tanpa alasan.
Dengan semangat muda yang menyala-nyala, Said maju menerobos orang banyak yang berdesak-desakan. Akhirnya dia sampai ke depan, sejajar dengan tempat duduk orang-orang penting, seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayah dan lain-lain.
Kaum kafir Quraisy sengaja mempertontonkan tawanan mereka dibelenggu. Sementara para wanita, anak-anak dan pemuda, menggiring Khubaib ke lapangan maut. Mereka ingin membalas dendam terhadap Nabi Muhammad saw, serta melampiaskan sakit hati atas kekalahan mereka dalam perang Badar. Ketika tawanan yang mereka giring sampai ke tiang salib yang telah disediakan, Said mendongakkan kepala melihat kepada Khubaib bin Adi. Said mendengar suara Khubaib berkata dengan mantap, ”Jika kalian bolehkan, saya ingin shalat dua rakaat sebelum saya kalian bunuh…”
Kemudian Said melihat Khubaib menghadap ke kiblat (Ka’bah). Dia shalat dua rakaat. Alangkah bagus dan sempurnanya shalatnya itu. Sesudah shalat, Khubaib menghadap kepada para pemimpin Quraisy seraya berkata, ”Demi Allah! Seandainya kalian tidak akan menuduhku melama-lamakan shalat untuk mengulur-ngulur waktu karena takut mati, niscaya saya akan shalat lagi.” Mendengar ucapan Khubaib tersebut, Said melihat para pemimpin Quraisy naik darah, bagaikan hendak mencincang-cincang tubuh Khubaib hidup-hidup. Kata mereka, ”Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebeskan?”
“Saya tidak ingin bersenang-senang dengan istri dan anak-anak saya, sementara Muhammad tertusuk duri,” jawab Khubaib mantap.
“Bunuh dia! Bunuh dia!” teriak orang banyak. Said melihat Khubaib telah dipakukan ke tiang salib. Dia mengarahkan pandangannya ke langit sambil berdoa,”Ya Allah! Hitunglah jumlah mereka! Hancurkan mereka semua. Jangan disisakan seorang jua pun!”
Tidak lama kemudian Khubaib menghembuskan nafasnya yang terakhir di tiang salib. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka karena tebasan pedang dan tikaman tombak yang tak terbilang jumlahnya.
Kaum Kafir Quraisy kembali ke Makkah biasa-biasa saja. Seolah-olah mereka telah melupakan peristiwa maut yang merenggut jiwa Khubaib dengan sadis. Tetapi Said bin Amir al Jumahi yang baru meningkat remaja tidak dapat melupakan Khubaib walau ‘sedetikpun’. Sehingga dia bermimpi melihat Khubaib menjelma dihadapannya. Dia seakan-akan melihat Khubaib menjelma di hadapannya. Dia seakan-akan melihat Khubaib shalat dua rakaat dengan khusyu’ dan tenang di bawah tiang salib. Seperti terdengar olehnya rintihan suara Khubaib mendoakan kaum kafir Quraisy. Karena itu Said ketakutan kalau-kalau Allah SWT segera mengabulkan doa Khubaib, sehingga petir dan halilintar menyambar kaum Quraisy. Keberanian dan ketabahan Khubaib menghadapi maut mengajarkan Said beberapa hal yang belum pernah diketahuinya selama ini.
Pertama, hidup yang sesungguhnya adalah hidup beraqidah, beriman, kemudian berjuang mempertahankan aqidah itu sampai mati.
Kedua, iman yang telah terhunjam di hati seseorang dapat menimbulkan hal-hal yang ajaib dan luar biasa.
Ketiga, orang yang paling dicintai Khubaib ialah sahabatnya, yaitu seorang Nabi yang dikukuhkan dari langit.
Sejak itu Allah SWT membukakan hati Said bin Amir untuk menganut agama Islam. Kemudian dia berpidato di hadapan khalayak ramai, menyatakan: ‘alangkah bodohnya orang Quraisy menyembah berhala’. Karena itu dia tidak mau terlibat dalam kebodohan itu. Lalu dibuangnya berhala-berhala yang dipujanya selama ini. Kemudian diumumkannya, mulai saat itu dia masuk Islam. Tidak lama sesudah itu, Said menyusul kaum Muslimin hijrah ke Madinah. Di sana dia senantiasa mendampingi Nabi saw. Dia ikut berperang bersama beliau, mula-mula dalam peperangan Khaibar. Kemudian dia selalu turut berperang dalam setiap peperangan berikutnya.
Setelah Nabi saw berpulang ke rahmatullah, Said tetap menjadi pembela setia Khalifah Abu Bakar dan Umar. Dia menjadi teladan satu-satunya bagi orang-orang mukmin yang membeli kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Dia lebih mengutamakan keridhaan Allah dan pahala daripada-Nya di atas segala keinginan hawa nafsu dan kehendak jasad.
Kedua khalifah Rasulullah, Abu Bakar dan Umar bin Khattab, mengerti bahwa ucapan-ucapan Said sangat berbobot dan taqwanya sangat tinggi. Karena itu keduanya tidak keberatan mendengar dan melaksanakan nasihat-nasihat Said.
Pada suatu hari di awal pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Said datang kepadanya memberi nasihat. Kata Said,”Ya Umar! Takutlah kepada Allah dalam memerintah manusia. Jangan takut kepada manusia dalam menjalankan agama Allah! Jangan berkata berbeda dengan perbuatan. Karena sebaik-baik perkataan ialah yang dibuktikan dengan perbuatan. Hai Umar! Tujukanlah seluruh perhatian Anda kepada urusan kaum Muslimin, baik yang jauh maupun yang dekat. Berikan kepada mereka apa yang Anda dan keluarga sukai. Jauhkan dari mereka apa-apa yang Anda dan keluarga tidak sukai. Arahkan semua karunia Allah kepada yang baik. Jangan hiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci.” “Siapakah yang sanggup melaksanakan semua itu, hai Said?” Tanya Khalifah Umar. “Tentu orang seperti Anda! Bukankah Anda telah dipercayai Allah memerintah umat Muhammad ini? Bukankah antara Anda dengan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?” jawab Said meyakinkan.
Pada suatu ketika Khalifah Umar memanggil Said untuk diserahi suatu jabatan dalam pemerintahan. “Hai Said! Engkau kami angkat menjadi Gubernur di Himsh!” kata Khalifah Umar.
“Wahai Umar! Saya mohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya condong kepada dunia,” kata Said.
“Celaka engkau!” Balas Umar marah. “Engkau pikulkan beban pemerintahan ini di pundakku, tetapi kemudian engkau menghindar dan membiarkanku repot sendiri.”
“Demi Allah! Saya tidak akan membiarkan Anda,” jawab Said.
Kemudian Khalifah Umar melantik Said menjadi gubernur di Himsh. Sesudah pelantikan khalifah Umar bertanya kepada Said, ”Berapa gaji yang Engkau inginkan?”
“Apa yang harus saya perbuat dengan gaji itu, ya Amirul Mukminin?” jawab Said balik bertanya. “Bukankah penghasilan saya dari Baitul Mal sudah cukup?” Tidak berapa lama setelah Said memerintah di Himsh, sebuah delegasi datang menghadap khalifah Umar di Madinah. Delegasi itu terdiri dari penduduk Himsh yang ditugasi Khalifah mengamat-amati jalannya pemerintahan di Himsh.
Dalam pertemuan dengan delegasi tersebut, Khalifah Umar meminta daftar fakir miskin Himsh untuk diberikan santunan. Delegasi mengajukan daftar yang diminta khalifah. Di dalam daftar tersebut terdapat nama-nama di Fulan, dan nama Said bin Amir al Jumahi.
Ketika Khalifah meneliti daftar tersebut, beliau menemukan nama Said bin Amir al Jumahi. Lalu beliau bertanya, ”Siapa Said bin Amir yang kalian cantumkan ini?”
“Gubernur kami!” jawab mereka. “Betulkah gubernur kalian miskin?” jawab Khalifah heran.
“Sungguh, ya Amirul Mukminin! Demi Allah! Seringkali di rumahnya tidak kelihatan tanda-tanda api menyala (tidak memasak),” jawab mereka meyakinkan.
Mendengar perkataan itu, Khalifah Umar menangis, sehingga air mata beliau meleleh membasahi jenggotnya. Kemudian beliau mengambil sebuah pundit-pundi berisi uang seribu dinar.
“Kembalilah kalian ke Himsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Said bin Amir, dan uang ini saya kirimkan untuk beliau, guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah tangganya,” ucap Umar sedih.
Setibanya di Himsh, delegasi itu segera menghadap Gubernur Said, menyampaikan salam dan uang kiriman Khalifah untuk beliau. Setelah Gubernur Said melihat pundi-pundi berisi uang dinar, pundi-pundi itu dijauhkannya dari sisinya seraya berucap, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (kita milik Allah dan pasti kembali kepada Allah). Mendengar ucapannya itu, seolah-olah suatu mara bahaya sedang menimpanya. Karena itu istrinya segera menghampiri seraya bertanya, ”Apa yang terjadi, hai Said? Meninggalkah Amirul Mukminin?”
“Bahkan lebih besar dari itu!” jawab Said sedih. “Apakah tentara kaum Muslimin kalah berperang?” tanya istrinya lagi. “Jauh lebih besar dari itu!” jawab Said tetap sedih. “Apa pulalah gerangan yang lebih dari itu?” tanya istrinya tak sabar. “Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah tangga kita,” jawab Said mantap.
“Bebaskan dirimu daripadanya!” kata istri Said memberi semangat, tanpa mengetahui perihal adanya pundi-pundi uang yang dikirimkan Khalifah Umar untuk pribadi suaminya.
“Maukah engkau menolongku berbuat demikian?” Tanya Said.
“Tentu!” jawab istrinya bersemangat. Maka Said mengambil pundi-pundi uang itu, lalu disuruhnya istrinya membagi-bagikan kepada fakir miskin.
(Sumber: Kepahlawanan Dalam Generasi Sahabat Karangan DR. Abdurrahman Raf'at Basya/Nuim Hidayat)

Sumber : www.eramuslim.com

Seindah Sahabat Mencintai Rasulullah: Detik Terakhir


dakwatuna.com – Genderang perang sebentar lagi ditabuh. Badar tak lama lagi akan berkecamuk. Sang Rasul, bergegas menyiapkan pasukan kaum muslimin. Inspeksi pun dimulai. Sambil memegang sebuah anak panah, panglima kaum muslimin itu pun memeriksa pasukan, satu persatu.
Tibalah beliau di hadapan Sawwad bin Ghazyah. Posisi tubuhnya agak melenceng dari barisan. Dia tidak berbaris rapi. “Luruskan barisanmu, wahai Sawwad!” Hardik Rasul sambil memecutkan anak panah di genggamannya ke perut Sawwad.
“Wahai Rasulullah!” sergah Sawwad, “Engkau telah membuat perutku kesakitan,” akunya “Dan bukankah Allah telah mengutusmu dengan kebenaran dan keadilan. Biarkan aku membalasmu.” pinta Sawwad kepada Rasul. Sontak, semua sahabat yang mendengar ucapan Sawwad ini terkaget. Selancang inikah Sawwad kepada Rasul yang mereka cintai?
Tapi Rasul tak berpikir panjang. Beliau singkapkan bagian pakaiannya. Tampak putih kulit perutnya.     “Silakan, balaslah!” tegas sang Rasul mempersilakan Sawwad membalas pukulan ke perutnya.
Hati para sahabat berdebar-debar. Pikiran mereka disesaki seribu tanya. Sedemikian nekadnya kah Sawwad? Apa yang ia pikirkan hingga ingin melakukan perbuatan terkutuk itu? Bukankah Rasul adalah komandannya dan pemimpin mereka di medan tempur? Dan bukankah pukulan ke perutnya itu adalah ganjaran atas ulah kecerobohannya? Ah, mana mungkin kekasih pilihan mereka ini akan disakiti. Hati mereka seakan berontak. Tapi apa daya, Sang Rasul telah mengambil putusan. Dan Sawwad pun sedang mengambil ancang-ancang.
Saat pikiran para sahabat mulia itu masih berkecamuk dengan sejuta tanya. Secepat kilat Sawwad menyergap perut Sang Rasul. Dipeluknya tubuh manusia termulia itu. Diciumnya halus kulit Hamba dan utusan Allah yang dia cintai. Beraur haru, para sahabat semakin terheran.
“Apa yang mendorongmu melakukan hal seperti ini, hai Sawwad!” tanya Rasul setelah beliau menyaksikan apa yang dilakukan Sawwad.
“Wahai Rasulullah!” Jawab Sawwad, “Engkau telah menyaksikan apa yang kau lihat. Aku ingin di detik terakhirku membersamaimu, kulitku bisa menyentuh kulit (tubuhmu).” aku Sawwad blakblakan namun penuh ketulusan.
Para sahabat terharu. Mereka baru mengerti apa yang diinginkan Sawwad. Maka mengalirlah do’a-do’a Rasulullah untuk keberkahan sahabatnya yang unik ini. Tanpa terasa, apa yang dilakukan Sawwad telah menyirami komitmen mereka untuk mencintai rasul-Nya. Seperti inilah para sahabat mencintai Rasulullah. Adakah kita mencintainya setulus sahabat mencintainya?
Kisah ini bersumber dari atsar yang diriwayatkan Ishak dari Ibnu Hibban dari Was’i dari para syekh kaumnya. Dan dinukil Syekh Walid al ‘Adzami dalam bukunya Ar Rasuul Fii Quluubi ash haabihii yang diterjemahkan (dengan sedikit tambahan redaksional) oleh Ufuk Islam. Beberapa referensi yang bisa dijadikan rujukan tentang kisah ini: Sirah Ibnu Hisyam (jilid 2 halaman 279-280), Tarikh At Thabari (3/1319), Al Isti’ab (2/673) dan beberapa referensi lainnya.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/18334/seindah-sahabat-mencintai-rasulullah-detik-terakhir/#ixzz1kymosZUx

Sabtu, 28 Januari 2012

Pertolongan Allah, Bukan Kebetulan


Artikel Lepas
23/1/2012 | 28 Shafar 1433 H | Hits: 1.627
Oleh: Wafiyyatunnisa Asy syu'lah



 dakwatuna.com - Terinspirasi dari sebuah kisah, tentang kesaksian seseorang yang mengalami kejadian nyata yang menakjubkan, Yusuf bin Husain, yang dikisahkan oleh Ibnu Qudamah, dan saya baca pada cuplikan novel “BUMI CINTA” yang ditulis oleh ustadz Habiburrahman El Shirazy (kang Abik). Berikut kisahnya:

    “Pernah suatu ketika aku bersama Dzun Nun Al Mishri berada di tepian sebuah anak sungai. Aku melihat seekor kalajengking besar di tempat itu. Tiba-tiba ada seekor katak muncul ke permukaan, dan kalajengking itu kemudian naik di atas punggungnya. Kemudian sang katak itu berenang menyeberangi sungai.

    Dzun Nun Al Mishri berkata, ‘ada yang aneh dengan kalajengking itu, mari kita ikuti dia!’

    Maka kami lantas menyeberang mengikuti kalajengking yang digendong katak itu. Kami terperanjat ketika menjumpai seseorang tertidur di tepian sungai yang nampaknya habis mabuk. Dan di sampingnya ada seekor ular yang mulai menjalar dari pusar hingga ke dadanya, kiranya ular tersebut hendak menggigit telinganya.

    Kami lalu menyaksikan kejadian luar biasa. Kalajengking itu tiba-tiba melompat secepat kilat ke tubuh ular itu dan menyengat ular itu sejadi-jadinya, hingga sang ular menggeliat-geliat dan terkoyak-koyak tubuhnya

    Dzun Nun lalu membangunkan anak muda yang habis mabuk itu. Sesaat kemudian anak muda itu terjaga. Dzun Nun berkata, ‘Hai anak muda, lihatlah betapa besar kasih sayang Allah yang telah menyelamatkanmu. Lihatlah kalajengking yang diutus-Nya untuk membinasakan ular yang hendak membunuhmu!’

    Lalu Dzun nun melanjutkan nasihatnya, ‘Hai orang yang terlena, padahal Tuhan menjaga dari marabahaya yang merayap di kala gulita. Sungguh aneh, mata manusia mampu terlelap meninggalkan Tuhan Yang Kuasa, yang melimpahinya berbagai nikmat.’

    Setelah itu pemabuk itu berkata, ‘Duhai Tuhanku, betapa agung kasih sayangMu sekalian terhadap diriku yang durhaka kepadaMu. Jika demikian, bagaimana dengan kasih sayangMu kepada orang yang selalu taat kepadaMu?’ “

*****

Sahabat, membaca kisah di atas, saya jadi teringat pada beberapa kejadian yang pernah saya alami sendiri:

“Pagi itu, sepulang shalat ied saya bersama seorang akhwat berjalan menyusuri jalan pinggiran Telkom-gasibu. Sepanjang perjalanan kami asyik berbincang. Hingga tiba-tiba, ‘PLAKK…!’ kami dikejutkan oleh suara yang cukup keras. Spontan kami menoleh ke belakang, tempat asal suara tersebut. Ternyata tak jauh di belakang kami, satu pelepah pohon yang cukup besar jatuh, tepat di jalan yang baru saja kami lewati, hanya beberapa detik sebelumnya. Tapi Allah telah menyelamatkan kami dengan, menahan jatuhnya pelepah itu beberapa detik saja”

“Pernah suatu malam, sebelum beristirahat saya menyempatkan diri untuk memanaskan air dengan menggunakan ceret pemanas. Karena terlalu lelah saya tertidur. Cukup lama saya tidur, hingga akhirnya saya terbangun saat mendengar suara ribut dari luar. Gelap, listrik mati. Dalam suasana gelap, masih dengan setengah kesadaran saya menangkap cahaya merah, begitu kontras, tampak sangat menyala. Seketika kesadaran saya menjadi utuh, kaget luar biasa. Saya ingat sedang memanaskan air, dan cahaya itu adalah dari saklar pemanas yang terbakar. Meski dengan tubuh yang gemetar, secepatnya saya menuju asal cahaya dan mencabut kabel dari kontak listrik. Bau hangus begitu menyengat.

Ternyata air yang saya panaskan telah habis, ceret itu kering. Padahal saya ingat bahwa sebelumnya air yang saya panaskan memenuhi ukuran ceret. Tak lama kemudian listrik kembali menyala, dan suasana kembali sepi. Ternyata tadi sekering listriknya jatuh, dan suara ribut itu adalah suara anak-anak penghuni kamar sebelah. Saat itu pukul tiga dini hari. Kejadian itu membuat saya benar-benar tidak dapat lagi memejamkan mata. Saya sangat bersyukur Allah masih menyelamatkan saya, melalui suara ribut yang membuat saya terbangun, juga melalui sekering listrik yang jatuh.”

“Dulu saya memelihara beberapa ekor kucing di rumah. Saya memang pecinta kucing (meski semenjak kuliah saya tak pernah lagi memelihara kucing, dan tak pernah berani menyentuh bulunya, khawatir akan virus dan takut alergi). Kucing saya beranak pinak, menjadi keluarga utuh. Ada induk, anak, cucu, hingga ke cicit.

Suatu hari sepulang sekolah, saya melihat kucing-kucing saya sedang menikmati ikan, tak tanggung-tanggung, satu kilo ikan. Sebelum saya sempat bertanya, mama dengan penuh semangat, antara rasa syukur dan rasa takjub bercerita,

‘Tadi pagi mama lagi nyuci piring di belakang (waktu itu tempat cuci piring masih berada di belakang, di luar rumah), Tiba-tiba si emak (panggilan kucing yang paling senior, emaknya kucing-kucing di rumah) nyamperin. Husshh…hush…, sana jangan ganggu. Kata mama. Tapi gak tau kenapa si emak tetap saja duduk di sana. Hush.., jangan di sini, tar kesenggol…, mama sich terus ngusir, tapi dianya tetap gak mau pergi. Akhirnya ya udah, mama lanjutin lagi nyuci piring. Ech… gak lama kemudian, kok ada suara ribut-ribut yah..? Mama noleh, dan ternyata, Masya Allah!! Si emak lagi berantem ama seekor ular, tepat di belakang kaki mama saat itu. Gak lama kemudian ularnya mati. Sebagai hadiah, si emak dan kucing-kucing yang lain mendapatkan satu kilogram ikan segar’.

Kami yang mendengar cerita itu ternganga, merasa sangat terkejut, bersyukur, juga ngeri. Tak bisa membayangkan kalo si emak tak berada di sana. Tapi sekali lagi, ini pasti bukan sebuah kebetulan. Allah yang telah memberikan ilham pada kucing itu untuk tetap betahan di sana meski telah diusir berkali-kali. Subhanallah.”

“Kejadian lain, yang mungkin kelihatannya lebih sepele (tapi tidak bagi saya), adalah saat saya kuliah di program ekstensi Unpas. Waktu itu ada tugas yang harus dikumpulkan. Bagi saya, kuliah sambil kerja memang tak mudah untuk membagi konsentrasi. Rata-rata tugas saya kerjakan dalam keadaan sistem kebut dan kilat, serba dadakan, di kantor pada saat ada sedikit waktu luang dari pekerjaan-pekerjaan saya. Saya ingat untuk mata kuliah ini saya pernah beberapa kali bolos karena tuntutan profesi. ‘Hari ini gak boleh bolos lagi, di samping tugas memang harus hari ini juga dikumpulkan’ begitu pikir saya. Perkuliahan dimulai pukul lima sore.

Hingga hampir pukul enam saya masih berada di kantor, menyelesaikan tugas yang belum rampung. Beberapa saat kemudian tugas selesai. Tapi tiba-tiba atasan saya menyampaikan suatu masalah yang harus segera diselesaikan. Jujur saat itu yang saya pikirkan adalah secepatnya berangkat dan tiba di kampus, meski memang sangat terlambat.

Tak ada pilihan bagi saya selain memenuhi permintaan atasan dan tetap bertahan di kantor, entah sampai jam berapa. Saya berfikir, ‘kuliah beres jam setengah tujuh, sempat gak ya?’ saat itu saya masih merasa harus kuliah, meski mungkin hadir satu menit sebelum pelajaran berakhir, sekadar untuk absen dan mengumpulkan tugas. Tapi masalah yang harus diselesaikan terlalu ruwet, apalagi dengan suasana hati dan pikiran yang serba tak nyaman, kehilangan konsentrasi. Cukup lama saya hanya terpaku, hingga kemudian terdengar suara adzan Maghrib.

Saya segera berwudhu, meninggalkan komputer dengan segala PR-nya. Selepas shalat saya berdoa, antara rasa bingung dan sangat berharap akan pertolongan Allah. Tak lama setelah saya kembali ke depan komputer (masih dengan setengah hati), satu sms saya terima, ‘ibunya gak ada teh, lagi sakit. Absennya juga tar aja katanya, minggu depan aja sambil ngumpulin tugas’. Subhanallah, Alhamdulillah, saya merasa sangat bersyukur (bukan karena ibunya sakit lho :D), melainkan karena pertolongan yang Allah turunkan, dalam suatu kejadian yang seolah sebuah kebetulan.”

Masih begitu banyak kisah yang pernah terjadi, entah yang masih saya ingat, maupun yang saya sendiri telah lupa atau memang tidak menyadari. Terlalu panjang jika harus dituliskan di sini, sehingga cukuplah beberapa kejadian di atas sebagai contoh. Saya yakin, kita semua pasti pernah mengalami kejadian itu, saat di mana kita tiba-tiba menyadari bahwa Allah telah menurunkan pertolongannya dengan perantara yang tak terduga.

Sering kita tanpa sadar mengatakan ‘untung ada si ini, kalau gak gimana yah tadi nasib saya’ atau ‘ya Allah, gak kebayang kalau tadi saya ada masih di sana…’ dan sebagainya. Seolah keselamatan kita adalah karena peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Padahal kalau kita lihat lagi kisah pertama di atas, bagaimana Allah mengutus seekor katak untuk muncul ke darat, SENGAJA untuk menjemput seekor kalajengking di seberang sungai, kemudian mengantar kalajengking itu hingga ke tempat seorang pemabuk yang tertidur pulas. Bagaimana kemudian Allah memerintahkan kalajengking itu untuk tak berdiam diri di sana, melainkan segera menyerang ular, tepat beberapa saat sebelum mencelakai pemuda tersebut. Allah juga yang telah mengatur, sang kalajengking tiba di sana tepat pada waktunya. Allahu Akbar…..!

Nah sahabat, coba ingat-ingat lagi kejadian yang pernah terjadi. Rasakan betapa luar biasa cara Allah memberikan pertolongan, lalu ucapkanlah rasa syukur yang paling dalam kepadaNya.

Allah SWT berfirman yang artinya:

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Baqarah (2): 255 – Ayat Kursi)

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).“ (QS. Al An’am (6): 59)

Wallahu’alam bishawab.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/18175/pertolongan-allah-bukan-kebetulan/#ixzz1kobSWFwq

Facebook

Facebook