وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴿٥٦﴾
dakwatuna.com – “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat: 56)
Saudaraku,
Hadirnya
kita di dunia ini adalah untuk menyembah Allah SWT. Betapa lemahnya
kita sebagai seorang hamba. Jantung, paru-paru, hati, peredaran darah,
usus, lambung dan segala organ dalam tubuh kita sendiri kita tak punya
kuasa untuk mengaturnya. Semuanya bekerja berdasarkan perintah dari yang
menciptakannya. Betapa bergantungnya kita kepada Allah SWT, dan
sepantasnyalah kita tiada pernah sombong walau sedetikpun. Umur kita
sampai saat ini juga merupakan kemurahan pemberian Allah SWT
Saudaraku,
Kenapa
belum juga tergerak hati kita untuk kembali kepada Allah. Memantapkan
azzam kita menjadi hamba pengabdi, yang selalu memberikan amal terbaik
kepada sang pencipta. Semua energy yang kita miliki, hendaknya
dipergunakan sebanyak-banyaknya untuk kemaslahatan perjalanan kita
menuju ridha-Nya. Ketahuilah, perjalanan kita tak selamanya mulus.
Selalu ada riak-riak yang menyebabkan perjalanan tersendat. Maka siapkan
bekal sebanyak-banyaknya untuk hilangkan kepenatan dan kelelahan.
Seorang hamba tiada pernah beristirahat mempersiapkan bekalnya, sebelum
perjalanan yang panjang harus berakhir. Sungguh merugi mereka yang
mengisi hari tanpa beramal. Melewati hari tanpa ibadah. Bukankah
perjalanan kita pasti akan berakhir? Maka bagaimana mungkin dalam
perjalanan selanjutnya kita tak mempersiapkan bekal?
Ingat
sahabat, kita bukan hewan dan tumbuhan, yang kehadirannya hanya di dunia
ini saja. Maka wajar kalau kerjaan mereka hanya makan, tidur dan kawin.
Mereka tidak mempertanggungjawabkan apa yang mereka lakukan di dunia
ini. Sementara kita diberikan akal pikiran untuk mencapai kesempurnaan
pengabdian. Betapa banyak kita temui mereka yang menjalani aktivitas
kehidupan tak ubahnya aktivitas yang dilakukan binatang. Makan, minum,
kawin. Roda kehidupannya senantiasa berputar di kisaran aktivitas itu.
Tanpa aktivitas lain. Tanpa ibadah, tanpa amal, tanpa baca Qur’an, tanpa
shalat, tanpa amal sosial dan tanpa aktivitas mengabdikan diri pada
Tuhannya.
Sungguh menyedihkan, hidup yang singkat ini diisi dengan
tidur-tiduran. Diisi dengan aktivitas keduniaan tanpa menyisakan
sedikit pun aktivitas menjemput pundi amal untuk dibawa ke negeri
akhirat. Bukankah akhirat itu kekal, tiada berakhir? Surga terlalu
sayang dilewatkan dengan mengisi hidup tanpa amal. Maka selagi nafas
masih di kerongkongan, mari beramal dengan penuh kesungguhan. Ada begitu
banyak peluang amal yang Allah sediakan setiap harinya, yang sayang
sekali untuk dilewatkan. Jangan jadi orang yang miskin di akhirat nanti
karena ketiadaan bekal amal yang dibawa. Jangan sampai kita jadi orang
yang menderita di dunia dan terlempar ke neraka.
Jadilah pribadi
bahagia di dunia, sentosa di surga. Lenyapkan segera riak-riak
kemalasan. Lempar jauh-jauh kelalaian. Mari genggam surga dengan cinta
pada sang Pencipta. Rengkuh keridhaanNya dengan amal terbaik yang mampu
kita persembahkan. Setiap perputaran waktu adalah masa dimana memutarkan
amal-amal terbaik yang sanggup kita kerjakan .Sudah saatnya kita
kembali ke jalur penciptaan yang sesungguhnya. Cukuplah dosa yang kita
lakukan di masa lalu, sebagai kenangan kekonyolan kita sebagai seorang
hamba. Kita perbaiki dan tutupi lubang-lubang aibnya dengan amal terbaik
kita. Mari bersama buat sejarah kehidupan yang dipenuhi dengan amal
unggulan. Sejarah kehidupan yang dipenuhi dengan amal kebaikan kepada
siapa pun. Setiap kita pasti ditanya tentang apa yang kita dilakukan di
dunia. Maka selagi ada waktu dan nafas masih di tenggorokan tak ada
waktu terlambat untuk kembali berlayar, mengudara, menempuh perjalanan
untuk menjemput pundi-pundi pahala yang Allah sediakan. Setiap kita
istimewa, maka jadilah pribadi istimewa di hadapan manusia, terlebih di
hadapan sang Pencipta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar