Senin, 13 Februari 2012

Hidup Untuk Ibadah

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴿٥٦﴾
dakwatuna.com – Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz Dzariyaat: 56)
Saudaraku,
Hadirnya kita di dunia ini adalah untuk menyembah Allah SWT. Betapa lemahnya kita sebagai seorang hamba. Jantung, paru-paru, hati, peredaran darah, usus, lambung dan segala organ dalam tubuh kita sendiri kita tak punya kuasa untuk mengaturnya. Semuanya bekerja berdasarkan perintah dari yang menciptakannya. Betapa bergantungnya kita kepada Allah SWT, dan sepantasnyalah kita tiada pernah sombong walau sedetikpun. Umur kita sampai saat ini juga merupakan kemurahan pemberian Allah SWT
Saudaraku,
Kenapa belum juga tergerak hati kita untuk kembali kepada Allah. Memantapkan azzam kita menjadi hamba pengabdi, yang selalu memberikan amal terbaik kepada sang pencipta. Semua energy yang kita miliki, hendaknya dipergunakan sebanyak-banyaknya untuk kemaslahatan perjalanan kita menuju ridha-Nya. Ketahuilah, perjalanan kita tak selamanya mulus. Selalu ada riak-riak yang menyebabkan perjalanan tersendat. Maka siapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk hilangkan kepenatan dan kelelahan. Seorang hamba tiada pernah beristirahat mempersiapkan bekalnya, sebelum perjalanan yang panjang harus berakhir. Sungguh merugi mereka yang mengisi hari tanpa beramal. Melewati hari tanpa ibadah. Bukankah perjalanan kita pasti akan berakhir? Maka bagaimana mungkin dalam perjalanan selanjutnya kita tak mempersiapkan bekal?
Ingat sahabat, kita bukan hewan dan tumbuhan, yang kehadirannya hanya di dunia ini saja. Maka wajar kalau kerjaan mereka hanya makan, tidur dan kawin. Mereka tidak mempertanggungjawabkan apa yang mereka lakukan di dunia ini. Sementara kita diberikan akal pikiran untuk mencapai kesempurnaan pengabdian. Betapa banyak kita temui mereka yang menjalani aktivitas kehidupan tak ubahnya aktivitas yang dilakukan binatang. Makan, minum, kawin. Roda kehidupannya senantiasa berputar di kisaran aktivitas itu. Tanpa aktivitas lain. Tanpa ibadah, tanpa amal, tanpa baca Qur’an, tanpa shalat, tanpa amal sosial dan tanpa aktivitas mengabdikan diri pada Tuhannya.
Sungguh menyedihkan, hidup yang singkat ini diisi dengan tidur-tiduran. Diisi dengan aktivitas keduniaan tanpa menyisakan sedikit pun aktivitas menjemput pundi amal untuk dibawa ke negeri akhirat. Bukankah akhirat itu kekal, tiada berakhir? Surga terlalu sayang dilewatkan dengan mengisi hidup tanpa amal. Maka selagi nafas masih di kerongkongan, mari beramal dengan penuh kesungguhan. Ada begitu banyak peluang amal yang Allah sediakan setiap harinya, yang sayang sekali untuk dilewatkan. Jangan jadi orang yang miskin di akhirat nanti karena ketiadaan bekal amal yang dibawa. Jangan sampai kita jadi orang yang menderita di dunia dan terlempar ke neraka.
Jadilah pribadi bahagia di dunia, sentosa di surga. Lenyapkan segera riak-riak kemalasan. Lempar jauh-jauh kelalaian. Mari genggam surga dengan cinta pada sang Pencipta. Rengkuh keridhaanNya dengan amal terbaik yang mampu kita persembahkan. Setiap perputaran waktu adalah masa dimana memutarkan amal-amal terbaik yang sanggup kita kerjakan .Sudah saatnya kita kembali ke jalur penciptaan yang sesungguhnya. Cukuplah dosa yang kita lakukan di masa lalu, sebagai kenangan kekonyolan kita sebagai seorang hamba. Kita perbaiki dan tutupi lubang-lubang aibnya dengan amal terbaik kita. Mari bersama buat sejarah kehidupan yang dipenuhi dengan amal unggulan. Sejarah kehidupan yang dipenuhi dengan amal kebaikan kepada siapa pun. Setiap kita pasti ditanya tentang apa yang kita dilakukan di dunia. Maka selagi ada waktu dan nafas masih di tenggorokan tak ada waktu terlambat untuk kembali berlayar, mengudara, menempuh perjalanan untuk menjemput pundi-pundi pahala yang Allah sediakan. Setiap kita istimewa, maka jadilah pribadi istimewa di hadapan manusia, terlebih di hadapan sang Pencipta.

Minggu, 05 Februari 2012

Wanita Idaman Ikhwan

dakwatuna.com - Ikhwan akhwat yang sedang mencari pendamping hidup bacalah uraian berikut… Malu bertanya sesat di jalan…
Ikhwan, jika kalimat ikhwan dicerna dari segi bahasa Arab maka akan berarti lelaki, namun Negara kita Indonesia merupakan Negara yang mempunyai bahasa resmi yaitu bahasa Indonesia, olehnya itu jika masyarakat mendengar kata ikhwan itu berarti sangat erat kaitannya dengan agama Islam, dengan demikian, pengertian ikhwan adalah lelaki yang senantiasa taat menjalankan Agama Allah, syariat Islam, dan melaksanakan perintah Allah serta menjauhi laranganNYA.
Ikhwan yang bersifat insani tentunya mengidam-idamkan wanita, yang bakal memperkokoh keimanan kepada Allah SWT, seiring berkembangnya roda era globalisasi maka tentunya untuk menemukan wanita yang benar-benar shalihah mungkin sudah sangat sulit atau jarang.
Ya, wanita shalihah, sebab telah ma’ruf bahwa sungguh mulia wanita yang shalihah. Di dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan generasi dambaan umat. Para ikhwan yang cerdas bakal memikirkan masa depan bukan dari segi dzahir saja namun akan berpikir juga masa depan dunia dan akhirat dengan memilih wanita shalihah maka akan melahirkan anak shalih yang akan berbakti, mendoakan orang tua jika sudah berpindah ke pangkuan ilahi. Nah, sekrang timbul pertanyaan, seperti apakah wanita shalihah itu…?
Pengertian Wanita Shalihah
Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim). Wanita shalihah adalah wanita yang bertaqwa, yaitu yang taat pada Allah dan Rasul-Nya. Wanita yang bertaqwa adalah selalu melaksanakan segala perintah Allah dan Rasul-Nya dan menjauh diri dari segala hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Jadi shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah, baik sebagai seorang anak, seorang istri, anggota masyarakat, dll.
Jika wanita shalihah ada di belakang para lelaki mukmin di dunia ini, maka kita akan melihat kebangkitan dunia Islam untuk mampu memimpin dunia, seperti baginda Rasul di belakang beliau terdapat wanita shalihah ummul mukminin Khadijah Radhiyallahu anha.
Wanita adalah tiang Negara. Bayangkanlah, jika tiang penopang bangunan itu rapuh, maka sudah pasti bangunannya akan roboh dan rata dengan tanah. Tidak akan ada lagi yang tersisa kecuali puing-puing yang nilainya tidak seberapa.
Wanita shalihah akan selalu berusaha melaksanakan syariat Islam dengan sepenuh kekuatan imannya. Dia akan mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilalloh) dengan memperbanyak ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah, menghiasi dirinya dengan akhlaqul karimah, bergaul dengan sesama manusia dengan muamalah yang sesuai syariat Islam, serta selalu memelihara diri agar tidak berbuat maksiat (perbuatan yang dilarang Allah dan Rasul-Nya).
Kriteria Wanita Shalihah
Wanita shalihah menjaga kecantikan dirinya agar tidak menjadi fitnah bagi orang lain. Ia mampu memelihara rasa malu sehingga segala tutur kata dan tindak tanduknya selalu terkontrol. Wanita shalihah terlihat dari perbuatannya selalu berusaha sesuai dengan syariat Islam, yaitu sesuai Al Qur’an dan hadits nabi. Al-Quran surat An-Nur: 30-31, Allah SWT memberikan gambaran wanita shalihah sebagai wanita yang senantiasa mampu menjaga pandangannya dan menutup auratnya.
“… Maka wanita shalihah ialah yang taat kepada Allah serta memelihara diri ketika suaminya tidak ada. Oleh karena Allah telah memelihara (mereka) …” (QS. An-Nisa’: 34)
Wanita shalihah akan terus berusaha menjaga kehormatan diri dan keluarga serta memelihara farji-nya,
Wanita shalihah adalah wanita yang mampu memelihara rasa malu, malu kepada Allah jika melanggar  aturan-aturan Allah dalam Al-Qur’an terutama saat ini seakan akan manusia selalu mengejar model pakaian tanpa menghiraukan apakah modelnya sudah sesuai dengan syariat Islam atau tidak. Wahai saudari-saudariku yang cantik, yang manis, malulah kepada Allah dan jangan mempermalukan dirimu sendiri atau menzhalimi diri sendiri, jika sudah paham bahwa menutup aurat, taat kepada suami, orang tua  maka jangan pernah merasa malu untuk melaksanakannya sebab itu jalan menuju syurga Allah SWT.
Banyak wanita bisa menjadi sukses, tetapi tidak semua bisa menjadi shalihah, bahkan wanita bisa menjadi fitnah terbesar bagi kaum laki-laki, yang membuat laki-laki semakin menjauh dari Allah dan menyeret mereka ke jurang neraka jahannam, na’u dzubillahi min dzaaliik. Begitu pula dengan sebaliknya banyak lelaki yang bisa sukses tetapi tidak semua bisa menjadi lelaki shalih.
Sekarang para ikhwan, jika ingin memilih wanita untuk dijadikan sebagai pasangan hidup makan pilihlah sesuai dengan wasiat Rasulullah dalam sabdanya:
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berwasiat untuk memilih wanita yang memiliki dien (agama) yang baik sebagai ukuran keshalihan seorang wanita. Bukan kecantikan, kedudukan, atau hartanya.
Wahai para Ikhwan ataupun akhwat ketahuilah bahwa wanita yang menjadi idaman seorang ikhwan adalah, wanita yang berkriteria seperti berikut:
Dari Abu Hurairah Rhodiyalloohu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan karena dien (agama)-nya. Maka pilihlah yang memiliki dien (Agama) maka engkau akan beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Nah… bagi ikhwan yang sedang dalam pencarian pasangan hidup tidak usah bimbang, bingung, mau jadi orang yang beruntung…? Pilihlah seperti yang diwasiatkan Rasulullah di atas, insya Allah itulah yang terbaik.
Dan bagi Akhwat yang disayangi oleh Allah mau jadi wanita pilihan para Ikhwan maka peliharalah, hiasilah kehidupanmu dengan Syariat Islam senantiasalah Istiqamah menjalankan Agama Allah jangan risau soal jodoh sebab semuanya sudah ditentukan oleh Sang Maha Pencipta, dan jangan terbawa arus model-model kehidupan yang tidak termaktub dalam syariat.
Ketahuilah bahwa Ikhwan sangat menyukai wanita shalihah, bersifat penyayang, perhatian, lemah lembut, cantik, tidak pemarah, dan tentunya memakai jilbab yang syar’i.
Sungguh mulia wanita yang shalihah. Di dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan generasi dambaan umat.
Sebelum penulis mengakhiri goresan ini sebuah tetesan tinta dari Negeri Seribu Benteng Maroko, mohon maaf jika terdapat kesalahan. Tak ada niat lain melainkan hanya untuk saling mengingatkan, semoga bermamfaat. Wallahu A’lamu Bishowab.

Rabu, 01 Februari 2012

Wanita Tangguh Mencari Cinta

dakwatuna.com - Teringat akan kisah seorang kawan menemukan jodohnya, cukup membuat diri ini semakin yakin akan ketetapanNya tanpa melanggar atau mencari celah pembenaran untuk melakukan hal-hal yang di langgar Allah.
Kisah ini berawal dari tahun lalu, di mana masa perjuangan seorang kawan itu menemukan si pemilik tulang rusuknya. Sebut saja namanya Zahra, dia belum pernah yang namanya berpacaran sekalipun. Subhanallah, sungguh keadaan yang sangat jarang terjadi sekali terjadi di zaman ini. Tetap teguh dalam rasa yang hanya di niatkan untuk Rabbnya. Menginjak usia dua puluh empat tahun, naluri ingin di cintai oleh lawan jenis pun muncul. Tapi ia hanya ingin menggapainya melalui jalur yang halal bukan pacaran. Zahra ingin menikah.
Suatu saat, ia memiliki suatu rasa (bisa di bilang cinta) kepada kawan sekolahnya semasa di kampung. Meskipun kini tinggal di pulau yang berbeda namun rasa itu kian hari kian tumbuh. Sebuah rasa yang di sebabkan oleh keshalihan si pria idaman tersebut (karena kebetulan Zahra mengenal keluarga kawannya itu dan keshalihan keluarganya) bukan karena fisik atau kekayaannya. Tapi Zahra bukanlah seorang perempuan “lebay” yang menggembor-gemborkan perasaannya langsung kepada pria itu. Rasa itu, ia tahan sedemikian rupa hingga hanya ia dan Allah saja yang tahu rasa itu. Hingga kemudian Zahra berusaha mencari solusi dengar meminta nasihat seorang kakaknya.
Kakaknya memberi nasihat, supaya bisa menahan segala rasa yang ia simpan. Kakaknya bersedia menjadi perantara Zahra kepada si pria itu. Namun dengan syarat, agar Zahra bisa meningkatkan ibadahnya. Memperbanyak membaca Al Qur’an, puasa sunnah dan sebagainya. Hal itu bertujuan untuk lebih meluruskan niatnya untuk menikah hanya karena Allah, untuk menjaga hatinya. Bukan berdasarkan hawa nafsu semata.
Beberapa waktu kemudian, ternyata terdengar kabar bahwa pria yang di cintai Zahra akan segera menikah dengan wanita pilihannya. Subhanallah, mendengar kabar itu Zahra tak lantas kecewa. Meskipun ada sebersit rasa sedih tapi ia bisa mengendalikan perasaannya hingga tak berubah menjadi patah hati yang berlebihan.
Usahanya tak putus sampai di situ, ia pun membuat proposal nikah yang ia berikan kepada guru ngajinya dan kepada kerabatnya yang memiliki pemahaman ilmu yang baik. Ia memang sangat berniat menikah untuk menjaga kehormatannya dan bisa melindungi dirinya dari segala macam fitnah.
Hebatnya, mengalami satu kegagalan tak membuatnya putus asa atau bermurung diri. Karena ia memang berniat menikah karena Allah, bukan karena siapa-siapa. Yang terpenting baginya adalah keshalihan.
Dalam bilangan minggu, ternyata Zahra mendapat kabar dari guru ngajinya bahwa ada seorang pria yang siap menikah. Mereka pun saling bertukar biodata proposal. Kedua pihak pun setuju untuk melakukan pertemuan. Dengan di dampingi oleh guru ngajinya masing-masing maka pertemuan di lakukan. Pertemuan pertama berjalan lancar dan untuk pertemuan selanjutnya masing-masing pihak akan mempertimbangkannya kembali.
Setelah beberapa lama di tunggu, ternyata belum ada kabar dari pria itu apakah proses ta’aruf di lanjutkan atau tidak. Maka Zahra pun menghubunginya perihal kelanjutan ta’aruf di antara mereka. Jawabannya yang di terima Zahra adalah bahwa pria itu belum mengkomunikasikan tentang rencana pernikahannya kepada orang tuanya. Orangtua pria itu adalah tipikal orang yang merasa aneh jika pernikahan tidak di awali dengan berpacaran. Zahra terkejut dengan jawaban pria itu. Kenapa sebelum melakukan ta’aruf tidak dulu di bicarakan dengan orang tuanya sehingga sewaktu-waktu ia sudah siap untuk menikah maka orang tuanya bisa menerima. Karena si pria itu tidak memberikan waktu yang pasti mengenai kelanjutan ta’aruf mereka, maka Zahra memutuskan untuk mengakhiri ta’aruf mereka. Hal itu di pilih Zahra untuk menghindari hal-hal yang bisa menjerumuskan mereka ke dalam jurang maksiat di karenakan tidak adanya kepastian waktu.
Dua kali Zahra mengalami kegagalan. Tapi ia tak putus asa. Untuk ikhtiarnya yang ketiganya pun Zahra masih gagal meneruskan proses ta’aruf ke jenjang pernikahan karena sesuatu sebab.
Masih pantang menyerah, Zahra melanjutkan usahanya yang ke empat kali. Kali ini Zahra di beri informasi oleh seorang ustadzah di kampung halamannya di kota X, bahwa ada seorang pria yang siap menikah dan sedang mencari calon istri yang sama kampung halamannya yaitu kota X juga tetapi berdomisili di Jakarta. Mendengar informasi itu Zahra langsung memberikan proposal nikahnya kepada ustadzah tersebut. Selang beberapa hari, terjadilah pertemuan antara kedua pihak di dampingi perantara.
Pada pertemuan pertama lebih di tekankan pada pengenalan pribadi yang merupakan penjabaran dari isi proposal, masing-masing pihak bertanya mengenai hal-hal yang kurang di pahami dan bagaimana pandangan tentang rumah tangga dan seluk beluknya. Pertemuan pertama bisa di bilang penentuan, maksudnya jika ada hal-hal yang tidak di pahami mengenai calon atau ada pertanyaan yang mengganjal, bisa langsung di tanyakan. Karena jawaban dari pertanyaan yang di ajukan pada saat itu juga dapat memperlihatkan ekspresi kejujuran tanpa di buat-buat juga dapat di nilai mengenai sifat asli melalui jawaban yang di lontarkan. Jika ada kecocokan masa dibilang di jadwalkan untuk pertemuan berikutnya yaitu pertemuan antara dua keluarga.
Merasa ada kecocokan antara Zahra dan calonnya. Maka pertemuan kedua langsung berbicara mengenai pernikahan. Bagaimana teknis dan hal lainnya. Awalnya pernikahan akan di laksanakan dua bulan setelahnya, namun khawatir kurang bisa menjaga hati maka dengan berbagai pertimbangan pernikahan di majukan menjadi sebulan dari di laksanakannya pertemuan pertama.
Akhirnya pencarian Zahra akan jodohnya berakhir. Zahra dan calonnya menikah di kediaman Zahra di kota X, dengan acara yang sangat sederhana. Hanya selang sebulan dari masa ta’aruf mereka.
*****
Itulah cerita yang saya ambil berdasarkan kisah nyata dari kawan baik saya. Betapa gigihnya dia menjemput jodohnya. Karena niat dia baik, maka siapa pun prianya yang penting shalih maka ia akan terima. Niatnya tulus karena Allah.
Allah telah memberikan imbalan atas kegigihan Zahra dan kesabarannya dalam mencari pendamping hidup. Allah memberinya seorang suami yang shalih yang mampu memimpin dirinya menuju keridhaan Allah. Kini usia pernikahan mereka memasuki bulan ketiga. Dan singkatnya perkenalan mereka, tak membuat mereka mempermasalahkan perbedaan yang ada. Justru pasca pernikahan, mereka gunakan untuk penjajakan guna pengenalan pribadi masing-masing secara mendalam.
Maha Suci Allah yang telah mempertemukan hambaNya dalam ikatan yang suci. Zahra dan suaminya tak membutuhkan proses yang lama untuk perkenalan pra nikah. Karena jika niat sudah lurus karena Allah saja, maka tak ada celah untuk mencari-cari alasan untuk berkata tidak apalagi melakukan hubungan yang sudah jelas haram (baca: pacaran). Cukup Allah saja yang menjadi alasan.
Mungkin cerita saya di atas hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang jarang terekspos. Ketika niat hanya kepada Allah sudah bulat, maka tak ada yang bisa menghalangi. Dan Allah pun langsung mengganjar kesabaran dengan sesuatu yang indah. Indah pada waktunya.

Facebook

Facebook